Senin, 21 Desember 2015

Pendekatan-Pendekatan dalam Teori Pendidikan

Pendekatan-Pendekatan dalam Teori Pendidikan


Pendidikan dapat dilihat dalam dua sisi yaitu: (1) pendidikan sebagai praktik dan (2) pendidikan sebagai teori. Pendidikan sebagai praktik yakni seperangkat kegiatan atau aktivitas yang dapat diamati dan disadari dengan tujuan untuk membantu pihak lain (baca: peserta didik) agar memperoleh perubahan perilaku. Sementara pendidikan sebagai teori yaitu seperangkat pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis yang berfungsi untuk menjelaskan, menggambarkan, meramalkan dan mengontrol berbagai gejala dan peristiwa pendidikan, baik yang bersumber dari pengalaman-pengalaman pendidikan (empiris) maupun hasil perenungan-perenungan yang mendalam untuk melihat makna pendidikan dalam konteks yang lebih luas.
Diantara keduanya memiliki keterkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Praktik pendidikan seyogyanya berlandaskan pada teori pendidikan. Demikian pula, teori-teori pendidikan seyogyanya bercermin dari praktik pendidikan. Perubahan yang terjadi dalam praktik pendidikan dapat mengimbas pada teori pendidikan. Sebaliknya, perubahan dalam teori pendidikan pun dapat mengimbas pada praktik pendidikan
Terkait dengan upaya mempelajari pendidikan sebagai teori dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, diantaranya: (1) pendekatan sains; (2) pendekatan filosofi; dan (3) pendekatan religi. (Uyoh Sadulloh, 1994).

1. Pendekatan Sains
Pendekatan sains yaitu suatu pengkajian pendidikan untuk menelaah dan dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan disiplin ilmu tertentu sebagai dasarnya. Cara kerja pendekatan sains dalam pendidikan yaitu dengan menggunakan prinsip-prinsip dan metode kerja ilmiah yang ketat, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif sehingga ilmu pendidikan dapat diiris-iris menjadi bagian-bagian yang lebih detail dan mendalam.
Melalui pendekatan sains ini kemudian dihasilkan sains pendidikan atau ilmu, dengan berbagai cabangnya, seperti: (1) sosiologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sosiologi dalam pendidikan untuk mengkaji faktor-faktor sosial dalam pendidikan; (2) psikologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi untuk mengkaji perilaku dan perkembangan individu dalam belajar; (3) administrasi atau manajemen pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari ilmu manajemen untuk mengkaji tentang upaya memanfaatkan berbagai sumber daya agar tujuan-tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien; (4) teknologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sains dan teknologi untuk mengkaji aspek metodologi dan teknik belajar yang efektif dan efisien; (5) evaluasi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi pendidikan dan statistika untuk menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa; (6) bimbingan dan konseling, suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari beberapa disiplin ilmu, seperti: sosiologi, teknologi dan terutama psikologi.
Tentunya masih banyak cabang-cabang ilmu pendidikan lainnya yang terus semakin berkembang yang dihasilkan melalui berbagai kajian ilmiah.

2. Pendekatan Filosofi
Pendekatan filosofi yaitu suatu pendekatan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan metode filsafat. Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul masalah-masalah yang lebih luas, kompleks dan lebih mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman inderawi maupun fakta-fakta faktual, yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh sains. Masalah-masalah tersebut diantaranya adalah tujuan pendidikan yang bersumber dari tujuan hidup manusia dan nilai sebagai pandangan hidup. Nilai dan tujuan hidup memang merupakan fakta, namun pembahasannya tidak bisa dengan menggunakan cara-cara yang dilakukan oleh sains, melainkan diperlukan suatu perenungan yang lebih mendalam.
Cara kerja pendekatan filsafat dalam pendidikan dilakukan melalui metode berfikir yang radikal, sistematis dan menyeluruh tentang pendidikan, yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga model: (1) model filsafat spekulatif; (2) model filsafat preskriptif; (3) model filsafat analitik. Filsafat spekulatif adalah cara berfikir sistematis tentang segala yang ada, merenungkan secara rasional-spekulatif seluruh persoalan manusia dengan segala yang ada di jagat raya ini dengan asumsi manusia memliki kekuatan intelektual yang sangat tinggi dan berusaha mencari dan menemukan hubungan dalam keseluruhan alam berfikir dan keseluruhan pengalaman Filsafat preskriptif berusaha untuk menghasilkan suatu ukuran (standar) penilaian tentang nilai-nilai, penilaian tentang perbuatan manusia, penilaian tentang seni, menguji apa yang disebut baik dan jahat, benar dan salah, bagus dan jelek. Nilai suatu benda pada dasarnya inherent dalam dirinya, atau hanya merupakan gambaran dari fikiran kita. Dalam konteks pendidikan, filsafat preskriptif memberi resep tentang perbuatan atau perilaku manusia yang bermanfaat. Filsafat analitik memusatkan pemikirannya pada kata-kata, istilah-istilah, dan pengertian-pengertian dalam bahasa, menguji suatu ide atau gagasan untuk menjernihkan dan menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan secara hati dan cenderung untuk tidak membangun suatu mazhab dalam sistem berfikir (disarikan dari Uyoh Sadulloh, 1994)
Terdapat beberapa aliran dalam filsafat, diantaranya: idealisme, materialisme, realisme dan pragmatisme (Ismaun, 2001). Aplikasi aliran-aliran filsafat tersebut dalam pendidikan kemudian menghasilkan filsafat pendidikan, yang selaras dengan aliran-aliran filsafat tersebut. Filsafat pendidikan akan berusaha memahami pendidikan dalam keseluruhan, menafsirkannya dengan konsep-konsep umum, yang akan membimbing kita dalam merumuskan tujuan dan kebijakan pendidikan. Dari kajian tentang filsafat pendidikan selanjutnya dihasilkan berbagai teori pendidikan, diantaranya: (1) perenialisme; (2) esensialisme; (3) progresivisme; dan (4) rekonstruktivisme. (Ella Yulaelawati, 2003).
Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.
Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia? Apa pengalaman itu?
Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.

3. Pendekatan Religi
Pendekatan religi yaitu suatu pendekatan untuk menyusun teori-teori pendidikan dengan bersumber dan berlandaskan pada ajaran agama. Di dalamnya berisikan keyakinan dan nilai-nilai tentang kehidupan yang dapat dijadikan sebagai sumber untuk menentukan tujuan, metode bahkan sampai dengan jenis-jenis pendidikan.
Cara kerja pendekatan religi berbeda dengan pendekatan sains maupun filsafat dimana cara kerjanya bertumpukan sepenuhnya kepada akal atau ratio, dalam pendekatan religi, titik tolaknya adalah keyakinan (keimanan). Pendekatan religi menuntut orang meyakini dulu terhadap segala sesuatu yang diajarkan dalam agama, baru kemudian mengerti, bukan sebaliknya.
Terkait dengan teori pendidikan Islam, Ahmad Tafsir (1992) dalam bukunya “ Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam” mengemukakan dasar ilmu pendidikan Islam yaitu Al-Quran, Hadis dan Akal. Al-Quran diletakkan sebagai dasar pertama dan Hadis Rasulullah SAW sebagai dasar kedua. Sementara akal digunakan untuk membuat aturan dan teknis yang tidak boleh bertentangan dengan kedua sumber utamanya (Al-Qur’an dan Hadis), yang memang telah terjamin kebenarannya. Dengan demikian, teori pendidikan Islam tidak merujuk pada aliran-aliran filsafat buatan manusia, yang tidak terjamin tingkat kebenarannya.
Berkenaan dengan tujuan pendidikan Islam, World Conference on Muslim Education (Hasan Langgulung, 1986) merumuskan bahwa : “ Education should aim at balanced growth of the total personality of man through Man’s spirit, intelellect the rational self, feelings and bodily senses. Education should therefore cater for the growth of man in all its aspects, spirituals, intelectual, imaginative, physical, scientific, linguistic, both individually and collectively, and motivate all these aspects toward goodness and attainment of perfection. The ultimate aim of Muslim Education lies in the realization of complete submission to Allah on the level of individual, the community and humanity at large.”
Sementara itu, Ahmad Tafsir (1992) merumuskan tentang tujuan umum pendidikan Islam yaitu muslim yang sempurna dengan ciri-ciri : (1) memiliki jasmani yang sehat, kuat dan berketerampilan; (2) memiliki kecerdasan dan kepandaian dalam arti mampu menyelesaikan secara cepat dan tepat; mampu menyelesaikan secara ilmiah dan filosofis; memiliki dan mengembangkan sains; memiliki dan mengembangkan filsafat dan (3) memiliki hati yang takwa kepada Allah SWT, dengan sukarela melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya dan hati memiliki hati yang berkemampuan dengan alam gaib.
Dalam teori pendidikan Islam, dibicarakan pula tentang hal-hal yang berkaitan dengan substansi pendidikan lainnya, seperti tentang sosok guru yang islami, proses pembelajaran dan penilaian yang islami, dan sebagainya. (selengkapnya lihat pemikiran Ahmad Tafsir dalam bukunya Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam)

Mengingat kompleksitas dan luasnya lingkup pendidikan, maka untuk menghasilkan teori pendidikan yang lengkap dan menyeluruh kiranya tidak bisa hanya dengan menggunakan satu pendekatan saja. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan holistik dengan memadukan ketiga pendekatan di atas yang terintegrasi dan memliki hubungan komplementer, saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Pendekatan semacam ini biasa disebut pendekatan multidisipliner

TEORI FILSAFAT PENDIDIKAN

TEORI FILSAFAT PENDIDIKAN


TEORI PRELIANISM

Perenialisme adalah suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi atau kekal. Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang, dengan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh pada zaman kuno dan abad pertengahan.
Dalam pendidikan, kaum perenialis berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta mambahayakan tidak ada satu pun yang lebih bermanfaat daripada kepastian tujuan pendidikan, serta kestabilan dalam perilaku pendidik. Mohammad Noor Syam (1984) mengemukakan pandangan perenialis, bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh.
Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal.
Sementara pandanganya dalam hal kenyataan, perenialisme berpendapat bahwa apa yang dibutuhkan manusia terutama ialah jaminan bahwa realita itu bersifat universal bahwa realita itu ada di mana saja dan sama di setiap waktu. Dengan keputusan yang bersifat ontologism kita akan sampai pada pengertian pengerian hakikat. Ontologi perenialisme berisikan pengertian : benda individual, esensi, aksiden dan substansi. Benda individual adalah benda yang sebagaimana nampak di hadapan manusia yang dapat ditangkap oleh indera kita seperti batu, kayu,dll
Esensi dari sesuatu adalah suatu kualitas tertentu yang menjadikan benda itu lebih baik intrinsic daripada halnya, misalnya manusia ditinjau dari esensinya adalah berpikir Aksiden adalah keadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensialnya, misalnya orang suka dengan barang-barang antik.
Substansi adalah suatu kesatuan dari tiap-tiap hal individu dari yang khas dan yang universal, yang material dan yang spiritual.
Sementara itu dalam persoalan nilai ia memiliki aliran bahwa nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sedangkan perbuatan manusia merupakan pancaran isi jiwanya yang berasal dari dan dipimpin oleh Tuhan. Secara teologis, manusia perlu mencapai kebaikan tertinggi, yaitu nilai yang merupakan suatu kesatuan dengan Tuhan. Untuk dapat sampai kesana manusia harus berusaha dengan bantuan akal rationya yang berarti mengandung nilai kepraktisan.
Menurut Aristoteles, kebajikan dapat dibedakan: yaitu yang moral dan yang intelektual. Kebajikan moral adalah kebajikan yang merupakan pembentukan kebiasaan, yang merupakan dasar dari kebajikan intelektual. Jadi, kebajikan intelektual dibentuk oleh pendidikan dan pengajaran. Kebajikan intelektual didasari oleh pertimbangan dan pengawasan akal. Oleh perenialisme estetika digolongkan kedalam filsafat praktis. Kesenian sebagai salah satu sumber kenikmatan keindahan adalah suatu kebajikan intelektual yang bersifat praktis filosofis. Hal ini berarti bahwa di dalam mempersoalkan masalah keindahan harus berakar pada dasar-dasar teologis, ketuhanan.
Kepercayaan adalah pangkal tolak perenialisme mengenai kenyataan dan pengetahuan. Artinya sesuatu itu ada kesesuaian antara piker (kepercayaan) dengan benda-benda. Sedang yang dimaksud benda adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip keabadian.Oleh karena itu, menurut perenialisme perlu adanya dalil รข€“ dalil yang logis, nalar, sehingga sulit untuk diubah atau ditolak kebenarannya
Perenialisme mengemukakan adanya hubungan antara ilmu pengetahuan dengan filsafat. Science sebagai ilmu pengetahuan
Science yang meliputi biologi, fisika, sosiologi, dan sebagainya ialah pengetahuan yang disebut sebagai empiriological analysis yakni analisa atas individual things dan peristiwa peristiwa pada tingkat pengalaman dan bersifat alamiah. Science seperti ini dalam pelaksanaan analisa dan penelitiannya mempergunakan metode induktif. Selain itu, juga mempergunakan metode deduktif, tetapi pusat penelitiannya ialah meneliti dan mencoba dengan data tertentu yang bersifat khusus. Filsafat sebagai pengetahuan
Menurut perenialisme, fisafat yang tertinggi ialah ilmu metafisika. Sebab, science dengan metode induktif bersifat empiriological analysis (analisa empiris); kebenarannya terbatas, relatif atau kebenarannya probability. Tetapi filsafat dengan metode deduktif bersifat ontological analysis, kebenaran yang dihasilkannya universal, hakiki, dan berjalan dengan hukum-hukum berpikir sendiri, berpangkal pada hukum pertama; bahwa kesimpulannya bersifat mutlak, asasi. Hubungan filsafat dan pengetahuan tetap diakui urgensinya, sebab analisa empiris dan analisa ontology keduanya dianggap perenialisme dapat komplementatif. Tetapi filsafat tetap dapat berdiri sendiri dan ditentukan oleh hukum-hukum dalam filsafat sendiri, tanpa tergantung kepada ilmu pengetahuan.
Teori atau konsep pendidikan perenialisme dilatarbelakangi oleh filsafat-filsafat Plato sebagai Bapak Idealisme Klasik, filsafat Aristoteles sebagai Bapak Realisme Klasik, dan filsafat Thomas Aquina yang mencoba memadukan antara filsafat Aristoteles dengan ajaran Gereja Katolik yang tumbuh pada zamannya 

1.Plato
Plato (427-347 SM), hidup pada zaman kebudayaan yang sarat dengan ketidakpastian, yaitu fisafat sofisme. Ukuran kebenaran dan ukuran moral menurut sofisme adalah manusia secara pribadi, sehingga pada zaman itu tidak ada kepastian dalam moral dan kebenaran, tergantung pada masing-masing individu. Plato berpandangan bahwa realitas yang hakiki itu tetap tidak berubah karena telah ada pada diri manusia sejak dari asalnya. Menurut Plato,dunia idea, yang bersumber dari ide mutlak, yaitu Tuhan. Manusia menemukan kebenaran, pengetahuan, dan nilai moral dengan menggunakan akal atau ratio.
Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas normative dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan. Masyarakat yang ideal adalah masyarakat adil sejahtera. Manusia yang terbaik adalah manusia yang hidup atas dasar prinsip idea mutlak yaitu suatu prinsip mutlak yang menjadi sumber realitas semesta dan hakikat kebenaran abadi yang transcendental yang membimbing manusia untuk menemukan criteria moral, politik, dan social serta keadilan. Ide mutlak adalah Tuhan

2.Aristoteles
Aristoteles (384-322 SM) adalah murid Plato, namun dalam pemikirannya ia mereaksi terhadap filsafat gurunya, yaitu idealisme. Hasil pemikirannya disebut filsafat realisme. Ia mengajarkan cara berpikir atas prinsip realistis, yang lebih dekat pada alam kehidupan manusia sehari-hari. Menurut Aristoteles, manusia adalah makhluk materi dan rohani sekaligus. Sebagai materi, ia menyadari bahwa manusia dalam hidupnya berada dalam kondisi alam materi dan social. Sebagai makhluk rohani, manusia sadar ia akan menuju pada proses yang lebih tinggi yang menuju kepada manusia ideal
Perkembangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat mencapainya. Ia menganggap penting pula pembentukan kebiasaan pada tingkat pendidikan usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral. Aristoteles juga menganggap kebahagiaan sebagai tujuan dari pendidikan yang baik. Ia mengembangkan individu secara bulat, totalitas. Aspek-aspek jasmaniah, emosi, dan intelek sama dikembangkan, walaupun ia mengakui bahwa kebahagiaan tertinggi ialah kehidupan berpikir (2:317) 


3. Thomas Aquinas
 Thomas berpendapat pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap-tiap individu. Seorang guru bertugad untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak agar menjadi aktif dan nyata. Menurut J.Maritain, norma fundamental pendidikan adalah :
· Cinta kebenaran.
· Cinta kebaikan dan keadilan.
· Kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi.
· Cinta kerjasama
Kaum perenialis juga percaya bahwa dunia alamiah dan hakikat manusia pada dasarnya tetap tidak berubah selam berabad-abad : jadi, gagasan-gagasan besar terus memiliki potensi yang paling besar untuk memecahkan permasalahan permasalahan di setiap zaman. Selain itu, filsafat perenialis menekankan kemampuan-kemampuan berpikir rasional manusia sehingga membedakan mereka dengan binatang-binatang lain.
Teori dasar dalam belajar menurut perenialisme adalah :
Mental disiplin sebagai teori dasar Penganut perenialisme sependapat bahwa latihan dan pembinaan berpikir (mental discipline) adalah salah satu kewajiban tertinggi dari belajar, atau keutamaan dalam proses belajar (yang tertinggi). Karena itu teori dan program pendidikan pada umumnya dipusatkan kepada pembinaan kemampuan berpikir.
Rasionalitas dan Asas Kemerdekaan. Asas berpikir dan kemerdekaan harus menjadi tujuan utama pendidikan ; otoritas berpikir harus disempurnakan sesempurna mungkin. Dan makna kemerdekaan pendidikan ialah membantu manusia untuk menjadi dirinya sendiri, be him-self, sebagai essential-self yang membedakannya daripada makhluk- makhluk lain. Fungsi belajar harus diabdikan bagi tujuan ini, yaitu aktualitas manusia sebagai makhluk rasional yang dengan itu bersifat merdeka.
Learning to Reason ( Belajar untuk Berpikir) Perenialisme tetap percaya dengan asas pembentukan kebiasaan dalam permulaan pendidikan anak. Kecakapan membaca, menulis dan berhitung merupakan landasan dasar. Dan berdasarkan pentahapan itu, maka learning to reason menjadi tujuan pokok pendidikan sekolah menengah dan pendidikan tinggi.
Belajar sebagai Persiapan Hidup Bagi Thomisme, belajar untuk berpikir dan belajar untuk persiapan hidup (dalam masyarakat) adalah dua langkah pada jalan yang sama, yakni menuju kesempurnaan hidup, kehidupan duniawi menuju kehidupan syurgawi.
Learning through Teaching (belajar melalui Pengajaran)
Adler membedakan antara learning by instruction dan learning by discovery, penyelidikan tanpa bantuan guru. Dan sebenarnya learning by instruction adalah dasar dan menuju learning by discovery, sebagai self education. Menurut perenialisme, tugas guru bukanlah perantara antara dunia dengan jiwa anak, melainkan guru juga sebagai murid yang mengalami proses belajar sementara mengajar. Guru mengembangkan potensi-potensi self discovery ; dan ia melakukan moral authority atas murid-muridnya, karena ia adalah seorang professional yang qualified dan superior dibandingkan muridnya.
Perenialisme berpendirian bahwa untuk mengembalikan keadaan kacau balau seperti sekarang ini, jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada prinsip-prinsip umum yang telah teruji. Menurut. perenialisme, kenyataan yang kita hadapi adalah dunia dengan segala isinya. Perenialisme berpandangan hahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat dipandang baik.
Beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan:
1. Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato)
2. Perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles)
3. Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas)
Adapun norma fundamental pendidikan menurut J. Maritain adalah cinta kebenaran, cinta kebaikan dan keadilan, kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi serta cinta kerjasama.

TEORI PROGRESIVISME
Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

TEORI KONSTRUKTIVISME
Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasanyang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:
  1. Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
  2. Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.
  3. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
  4. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkaninformasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.
  5. Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
  6. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik miknat pelajar.
Lebih dua dasa warsa terakhir ini, dunia pendidikan mendapat sumbangan pemikiran dari teori konstruktivisme sehingga banyak negara mengadakan perubahan-perubahan secara mendasar terhadap sistem dan praktik pendidikan mereka, bahkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pun tak luput dari pengaruh teori ini. Paul Suparno dalam “Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan” mencoba mengurai implikasi filsafat konstruktivisme dalam praktik pendidikan. Berikut ini adalah intisari buku tersebut, sekiranya bisa bermanfaat bagi para pendidik dan orangtua.
Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri (Von Glaserfeld). Pengetahuan bukan tiruan dari realitas, bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan skema yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut.
Jika behaviorisme menekankan ketrampilan atau tingkah laku sebagai tujuan pendidikan, sedangkan maturasionisme menekankan pengetahuan yang berkembang sesuai dengan usia, sementara konstruktivisme menekankan perkembangan konsep dan pengertian yang mendalam, pengetahuan sebagai konstruksi aktif yang dibuat siswa. Jika seseorang tidak aktif membangun pengetahuannya, meskipun usianya tua tetap tidak akan berkembang pengetahuannya. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. Pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja, melainkan harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Pengetahuan juga bukan sesuatu yang sudah ada, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dalam proses itu keaktivan seseorang sangat menentukan dalam mengembangkan pengetahuannya.
Jean Piaget adalah psikolog pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme, sedangkan teori pengetahuannya dikenal dengan teori adaptasi kognitif. Sama halnya dengan setiap organisme harus beradaptasi secara fisik dengan lingkungan untuk dapat bertahan hidup, demikian juga struktur pemikiran manusia. Manusia berhadapan dengan tantangan, pengalaman, gejala baru, dan persoalan yang harus ditanggapinya secaca kognitif (mental). Untuk itu, manusia harus mengembangkan skema pikiran lebih umum atau rinci, atau perlu perubahan, menjawab dan menginterpretasikan pengalaman-pengalaman tersebut. Dengan cara itu, pengetahuan seseorang terbentuk dan selalu berkembang. Proses tersebut meliputi:
1. Skema/skemata adalah struktur kognitif yang dengannya seseorang beradaptasi dan terus mengalami perkembangan mental dalam interaksinya dengan lingkungan. Skema juga berfungsi sebagai kategori-kategori utnuk mengidentifikasikan rangsangan yang datang, dan terus berkembang.
2. Asimilasi adalah proses kognitif perubahan skema yang tetap mempertahankan konsep awalnya, hanya menambah atau merinci.
3. Akomodasi adalah proses pembentukan skema atau karena konsep awal sudah tidak cocok lagi.
4. Equilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamya (skemata). Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi.
Menurut Ausubel, ada dua macam proses belajar yakni belajar bermakna dan belajar menghafal. Belajar bermakna berarti informasi baru diasimilasikan dalam struktur pengertian lamanya. Belajar menghafal hanya perlu bila pembelajar mendapatkan fenomena atau informasi yang sama sekali baru dan belum ada hubungannya dalam struktur pengertian lamanya. Dengan cara demikian, pengetahuan pembelajar selalu diperbarui dan dikonstruksikan terus-menerus. Jelaslah bahwa teori belajar bermakna Ausubel bersifat konstruktif karena menekankan proses asimilasi dan asosiasi fenomena, pengalaman, dan fakta baru ke dalam konsep atau pengertian yang sudah dimiliki siswa sebelumnya.
Berlandaskan teori Piaget dan dipengaruhi filsafat sainsnya Toulmin yang mengatakan bahwa bagian terpenting dari pemahaman manusia adalah perkembangan konsep secara evolutif, dengan terus manusia berani mengubah ide-idenya, Posner dkk lantas mengembangkan teori belajar yang dikenal dengan teori perubahan konsep. Tahap pertama dalam perubahan konsep disebut asimilasi, yakni siswa menggunakan konsep yang sudah dimilikinya untuk menghadapi fenomena baru. Namun demikian, suatu ketika siswa dihadapkan fenomena baru yang tak bisa dipecahkan dengan pengetahuan lamanya, maka ia harus membuat perubahan konsep secara radikal, inilah yang disebut tahap akomodasi.
Tugas pendidikan adalah bagaimana dua tahap tersebut bisa terus berlangsung dengan terus memberi tantangan sehingga ada ketidakpuasan terhadap konsep yang telah ada. Praktik pendidikan yang bersifat hafalan seperti yang selama ini berlangsung jelas sudah tidak memadai lagi, bahkan bertentangan dengan hakikat pengetahuan dan proses belajar itu sendiri.
Beberapa macam konstruktivisme Von Glaserfeld membedakan tiga level konstruktivisme dalam kaitan hubungan pengetahuan dan kenyataan, yakni konstruktivisme radikal, realisme hipotesis, dan konstruktivisme yang biasa.
Konstruktivisme radikal mengesampingkan hubungan antara pengetahuan dan kenyataan sebagai kriteria kebenaran. Bagi kaum radikal, pengetahuan adalah suatu pengaturan atau organisasi dari suatu obyek yang dibentuk oleh seseorang. Menurut aliran ini kita hanya tahu apa
yang dikonstruksi oleh pikiran kita. Pengetahuan bukanlah representasi kenyataan. Realisme hipotesis memandang pengetahuan sebagai suatu hypotesis dari suatu struktur kenyataan dan sedang berkembang menuju pengetahuan yang sejati yang dekat dengan realitas. Sedangkan konstruktivisme yang biasa, masih melihat pengetahuan sebagai suatu gambaran yang dibentuk dari kenyataan suatu objek.
Dari segi subyek yang membetuk pengetahuan, dapat dibedakan antara konstruktivisme psikologis personal, sosiokulturalisme, dan konstruktivisme sosiologis. Yang personal dengan tokohnya Piaget, menekankan bahwa pengetahuan itu dibentuk oleh seseorang secara
pribadi dalam berinteraksi dengan pengalaman dan objek yang dihadapinya. Orang itu sendiri yang membentuk pengetahuan. Sosiokulturalisme yang ditokohi oleh Vygotsky, menjelaskan bahwa pengetahuan dibentuk baik secara pribadi tetapi juga oleh interaksi sosial dan kultural dengan orang-orang yang lebih tahu tentang hal itu dan lingkungan yang mendukung. Dengan dimasukkannya seseorang dalam suatu masyarakat ilmiah dan kultur yang sudah punya gagasan tertentu, maka orang itu membentuk pengetahuannya. Sedangkan konstruktivisme sosiologis menyatakan bahwa pengetahuan itu dibentuk oleh masyarakat sosial. Unsur masyarakatlah yang penting, sedang unsur pribadi tidak diperhatikan.
Dampaknya terhadap pendidikan dalam pengertian konstruktivisme, belajar adalah suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dibuat sendiri oleh pelajar atau orang yang mau mengerti. Orang itulah yang aktif berpikir, membuat konsep, dan mengambil makna. Guru atau pendidik di sini hanyalah membantu agar proses konstruksi itu berjalan. Guru bukan
mentransfer pengetahuan sebagai yang sudah tahu, tetapi membantu agar anak didik membentuk pengetahuannya.
Dalam pengertian konstruktivisme, murid tidak dianggap sebagai suatu tabula rasa yang kosong, yang tidak mengerti apa-apa sebelumnya. Murid dipahami sebagai subyek yang sudah membawa "pengertian awal" akan sesuatu sebelum mereka mulai belajar secara formal. Bahkan seorang murid klas 1 SD pun sudah membawa pengetahuan awal mengenai macam-macam hal yang dalam tarafnya berlaku untuk memecahkan persoalan. Pengetahuan awal tersebut, meski kadang sangat naif atau tidak cocok dengan pengertian para ahli, perlu diterima dan nanti dibimbing untuk semakin sesuai dengan pemikiran para ahli. Pemikiran mereka itu meski naif, bukanlah salah; tetapi terbatas berlakunya.

TEORI PNDIDIKAN THORNDIKE
Teori pendidikan dan pengajaran di amerika serikat di dominasi oleh pengaruh dari Thorndike (1874-1949) teori belajar Thorndike di sebut “ Connectionism” karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Teori ini sering juga disebut “Trial and error” dalam rangkan menilai respon yang terdapat bagi stimulus tertentu. Thorndike mendasarkan teorinya atas hasil-hasil penelitiannya terhadap tingkah laku beberapa binatang antara lain kucing, dan tingkah laku anak-anak dan orang dewasa.
Objek penelitian di hadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek melakukan berbagai pada aktivitas untuk merespon situasi itu, dalam hal ini objek mencoba berbagai cara bereaksi sehingga menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu reaksi dengan stimulasinya.
Ciri-ciri belajar dengan trial and error :

1. Ada motif pendorong aktivitas

2. Ada berbagai respon terhadap situasi

3. Ada aliminasi respon-respon yang gagal atau salah

4. Ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu

sumber : http://almuttaqin-uinbi2b.blogspot.co.id/2008/05/teori-filsafat-pendidikan.html

Filsafat Pndidikn

Filsafat pendidikan
merupakan ilmu filsafat yang mempelajari hakikat pelaksanaan dan pendidikan.Bahan yang dipelajari meliputi tujuan, latar belakang, cara, hasil, dan hakikat pendidikan. Metode yang dilakukan adalah dengan menganalisa secara kritis struktur dan manfaat pendidikan. Filsafat pendidikan berupaya untuk memikirkan permasalahan pendidikan. Salah satu yang dikritisi secara konkret adalah relasi antara pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran. Salah satu yang sering dibicakan dewasa ini adalah pendidikan yang menyentuk aspek pengalaman. Filsafat pendidikan berusaha menjawab pertanyaan mengenai kebijakan pendidikan, sumber daya manusia, teori kurikulum dan pembelajaran serta aspek-aspek pendidikan yang lain.

Pengertian Filsafat Pendidikan

Filsafat dan pendidikan sebenarnya adalah dua istilah yang mempunyai makna sendiri. Akan tetapi ketika digabungkan akan menjadi sebuah tema yang baru dan khusus. Filsafat pendidikan tidak dapat dipisahkan dari ilmu filsafat secara umum. Filsafat pendidikan memandang kegiatan pendidikan sebagai objek yang dikaji. Ada banyak defisini mengenai filsafat pendidikan tapi akhirnya semua mengatakan dan mengajukan soal kaidah-kaidah berpikir filsafat dalam rangka menyelesaikan permasalahan pendidikan. Upaya ini kemudian menghasilan teori dan metode pendidikan untuk menentukan gerak semua aktivitas pendidikan.

Objek Kajian Filsafat Pendidikan

Realitas-realitas pendidikan yang menjadi objek kajian filsafat pendidikan antara lain:
  1. Hakikat manusia ideal sebagai acuan pokok bagi pengembangan dan penyempunaan.
  2. Pendidikan dan nilai-nilai yang dianut sebagai suatu landasan berpikir dan memengaruhi tatanan hidup suatu masyarakat.
  3. Tujuan pendidikan sebagai arah pengembangan model pendidikan.
  4. Relasi antara pendidik dan peserta didik sebagai subjek dan subjek.
  5. Pemamahaman dan pelaksanaan kurikulum dalam pendidikan.
  6. Metode dan strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi peserta didik.
  7. Hubungan antara lembaga pendidikan dengan tatanan masyarakat dan organisasi serta situasi sosial sekitar.
  8. Nilai dan pengetahuan sebagai aspek penting dalam pengajaran.
  9. Kaitan antara pendidikan dengan kelas sosial dan kenaikan taraf hidup masyarakat.
  10. Aliran-aliran filsafat yang dapat memberikan solusi atas masalah pendidikan.
Pada dasarnya filsafat pendidikan membicarakan tiga masalah pokok. Pertama, apakah sebenarnya pendidikan itu. Kedua, apakah tujuan pendidikan yang sejati. Ketiga, dengan metode atau cara apakah tujuan pendidikan dapat tercapai.


Contoh Skenario Pembelajaran

SKENARIO PEMBELAJARAN BILANGAN BULAT











Di susun oleh:
Nama :  Restu Yashinta Kinanti
NIM :  222141537





PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS SULTAN AGUNG TIRTAYASA
2015 
Topik : Bilangan bulat
Kompetensi dasar : Siswa memahami pengertian bilangan bulat dan memahami operasi bilangan bulat
Indikator hasil belajar :
 Siswa dapat menjelaskan pengertian bilangan bulat
 Siswa dapat menjelaskan letak bilangan pada garis bilangan
 Siswa dapat menjelaskan cara mehitung pada bilangan bulat baik penjumlahan, pengurangan, perkalian maupun pembagian
Proses pembelajarannya
i. Pendahuluan
a. Guru menyiapkan kondisi siswa untuk siap belajar.
b. Guru mengucapkan salam
c. Guru dan siswa membaca do’a
d. Guru memberikan appersepso:
Guru menyuruh anak untuk menyebut berurutan 1, 2, 3, 4, ...
Guru bertanya apakah 1, 2, 3, 4, ... adalah bilangan?
e. Guru menyampaikan tema dan tujuan pembelajaran
f. Guru mengajukan pertanyaan:
“bagaimana cara menyelesaikan operasi bilangan bulat, dan apa bedanya bilangan bulat dengan bilangan lainnya?”
ii. Siswa dibagi kedalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah
iii. Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan pengamatan peristiwa/kejadian/fenomena/konteks atau situasi yang berkaitan dengan penggunaan bilangan bulat.
iv. Kegiatan inti
a. Siswa mengamati fenomena, peristiwa, kejadian, konteks atau situasi yang berkaitan dengan bilangna bulat, seperti temperatur atau suhu berbagai benda, ketinggian pohon dan sebagainya.
b. Siswa menanyakan hal-hal penting yang diperoleh selama kegiatan mengamati berlangsung
c. Siswa mengidentifikasikan bilangan bulat positif dan bilangan bulat negatif pada garis bilangan
d. Guru memamaparkan garis bilangan, lalu anggota kelompok bergantian mengambil undian dalam kotak yang berisi bilangan-bilangan kemudian menyebutkannya serta menunjukkan bilangan tersebut pada garis bilangan yang telah tersedia
e. Pada kelompok yang lain, anggota 1 dan anggot 2 mengambil bilangan pada kotak yang disediakan, kemudian dikerjakan sesuai dengan pengoprasiannya dan disebutkan hasilnya, kemudian ditunjukkan pada garis bilangan.
f. Guru mengajukan soal, masing-masing kelompok berdiskusi dalam mengerjakannya kemudian kelompok yang tercepat bisa mengerjakan kedepan dengan benar di beri hadiah
g. Apa bila masih ada hasil kerja yang belum benar, didiskusikan secara klasikal
h. Guru bersama siswa bertany jawab meluruskan kesalah pahaman, memberi penguat dan kesimpulan
v. Penutup
a. Guru dan siswa menyimpulkan materi pembelajaran sebagai pemantapan pengetahuan siswa
b. Guru memberikan pekerjaan rumah

Tradisi Ritual Kematian di Banten

BAB I Isi
1.1 Deskripsi Upacara Kematian di Banten
1.1.1  Nama Upacara
Upacara yang diadakan dalam upacara di Banten dapat dibagi kedalam dua bagian, yaitu: (1) Upacara yang berhubungan dengan pengurusan mayat sampai mayat dikuburkan, (2) Upacara yang dilakukan setelah penguburan. Yang terdapat di kabupaten Pandeglang, Serang dan Lebak.
Upacara yang dilakukan sehubungan dengan pengurusan mayat terdiri dari:
1. Upacara ngamandian ‘upacara memandikan mayat’
2. Upacara mungkus mayat ‘upacara mengkafani mayat’
3. Upacar nyolatkeun mayit ‘upacar menyembahyangkan mayat’
4. Upacara ngurebkeun atau nguburkuen ‘upacara menguburkan mayat’
Sedangkan upacara yang dilakukan setelah upacara penguburan, yaitu:
1. Upacara nyusur tanah ‘upacara menyusur tanah’
2. Upacara tiluna ‘upacara tiga harian’
3. Upacara tujuhna ‘upacara tujuh harian’
4. Upacara matangpuluh ‘upacara empat puluh harian’
5. Upacra natus ‘upacara seratus hari’
6. Upacara mendak ‘setelah setahun’
7. Dan newu ‘upacara keseribu hari’
Di wilayah Banten sebelah barat terutama orang-orang yang mampu, setelah upacara-upacara tersebut diatas, kadang-kadang mengadakan upacara kelima belas hari. Upacara yang dilakukan setelah penguburan semuanya disebut upacara tahlilah. Dan upacara tahlilan ini biasanya dilakukan pada waktu malam hari, kecuali upacara nyusur tanah dilaksanakan siang hari
1.1.2  Waktu Upacara
Upacara ngamandian ‘upacara memandikan mayat’ dilakukan pada siang hari, walaupun seseorang itu meninggal pada malam hari. Sedangkan upacara mungkus mayit dilaksanakan setelah mayat tersebut dimandikan dan diwudhukan. Demikian pula upacar penguburan dilaksanakan setelah selesai upacara penguburan.
Upacara yang biasa dilaksanakn pada malam hari ialah upacara tahlilan ‘upacara membaca do’a untuk mendo’akan agar arwah orang yang meninggal diampuni dosa-dosanya dan diterima serta ditempatkan di tempat yang layak di sisi Tuhan’. Upacara tahlilan biasanya dilaksanakn setelah waktu sembahyang maghrib atau isa. Kecuali pada upacara natus dan upacara mendak biasanya dilaksanakan pada siang hari, sedangkan malam harinya diadakan lagi upacara tahlilan.
1.1.3  Tempat Upacara
Upacara ngamandian biasanya dilakukan dengan mengambil tempat di luar rumah, baik di muka rumah maupun di pipinggir rumah. Tempat upacara memandikan, baik di muka atau di pinggir rumah di sekelilingnya harus ditutup dengan kain atau penghalang agar mayat tidak secara langsung kelihatan oleh umum. Sesuai dengan nama upacara ngamandian, mka tempat memandikan harus tertutup, seperti layaknya kamar mandi.
Upacara mungkus dilakukan di dalam rumah, biasanya dilakukan di bagian tengah rumah. Upacara nyolatkeun dilakukan di rumah atau di masjid.
Upacara nyusur tanah dilakukan dirumah, setelah upacara penguburan selesai. Sedangkan upacara tahlilan dilakukan didalam rumah.
1.1.5 Orang yang Terlibat dan Jam Upacara

Dalam upacara kematian yang terlibat secara langsung adalah keluarga, kerabat dan tetangga orang yang meninggal dipimpin oleh penghulu amil 'seorang pamong desa yang bertugas mengurus soal-soal yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan'.

Upacara ngamandian 'upacara memandikan mayat' merupakan kewajiban keluarga dan kerabat dari orang yang meninggal sehingga walaupun penghulu amil 'pamong desa yang bertugas mengurusi masalah-masalah keagarnaan’ bertindak sebagai pimpinan upaeara orang yang meninggal ikut memandikannya.

Upacara mungkus, 'mengkafani mayat' dilakukan oleh penghulu amiI, sedangkan dalam upacara nyolatkeun 'menyembahyangkan mayat' lebih banyak orang yang terlibal, baik keluarga, kerabat maupun tetangga dianggap lebih sempuma. Upacara menyembahyangkan mayat ini dipimpin oleh penghulu amil yang berlindak sebagai imam.

Sedangkan di dalarn upacara penguburan lebih banyak lagi orang yang terlibat. Kebanyakan para tetangga yang tidak sempat membantu pekerjaan–pekerjaan dan jam penyelenggaraan upacara sebelumnya, pada upacarapenguburan mereka menyempatkan diri untuk mengantar ke kuburan. Upacara penguburan ini pun dipimpin oleh penghulu amil.

Demikian juga upaeara menyusur tanah dilakukan oleh keluarga, kerabat dan para tetangga yang ikut mengantar ke kuburan. Upacara nyusur tanah 'upacara menyusur tanah' masih dipirnpin oleh penghulu amil 'petugas pamong desa yang mengurusi masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan'.

Upacara tahlilan dilakukan di rumah keluarga orang yang meninggal, dihadiri oleh tetangga·tetangga dekat untuk bersama-sasa membacakan ayat·ayat suci AI·Qur'an. Upacara tahlilan dipirnpin oleh seorang tua yang ahli dalam bidang tersebut atau oleh penghulu amil bila tempat berdekatan dengan rumah keluarga dari orang yang meninggal. Jadi dalam upacara tahlilan ini orang yang terlibat terbatas kepada keluarga dan tetangga·tetangga dekat saja.


1.1.5  Tujuan Upacara
Upacara ngamandian ‘upacara memandikan mayat’ bertujuan agar mayat tersebut bersih dan bebas dari kotoran dan najis. Selain itu, mayat tersebut sebelum dikuburkan harus suci, oleh karena itu setelah dimandikan mayat itu kemudian diwudhuan, tujuannya agar mayat itu sudah sucu sebelum menghadap Tuhan.
Sedangkan upacara mungkus ‘upacara mengkafani mayat’ dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa orang yang meninggal itu telah bersih dan suci sebelum menghadap Tuhan.
Upacara nyolatkeun bertujuan untuk mendoakan arwah yang meninggal agar diampuni Tuhan atas segala dosa-dosanya dan agar diterima serta ditempatkan di tempat yang layak sesuai dengan amal dan perbuatannya selama masih hidup.
Upacara nyusur tanah ‘upacara menyusur tanah’ selain dimksudkan untuk mendo’akan arwah orang yang baru saja dikuburkan juga bertujuan memberi makan minum kepada orang-orang yang telah mengantar ke kuburan sebagai rasa terima kasih keluarga yang ditinggalkan kepada semua orang yang telah mengurus penguburan.
Upacara tahlilan bertujuan mendo’akan agar arwah orang yang meninggal itu diampuni dosa-dosanya. Selain itu upacara tahlilan dimaksudkan juga untuk sekedar mengurangi kesedihan keluarga yang ditinggalkan. Demikian juga upacara natus atau nyeratus, dan mendak ‘upacara setelah setahun meninggal’ dimaksudkan untuk mendo’akan arwah orang yang meninggal tersebut. Upacara mendak merupakan upacara terakhir dalam rangkaian upacara kematian sebelum newu atau nyewu ‘keseribu hari’, sehingga dalam pelaksanaannya biasanya merupakan upacara besar.
1.1.6 Lambang ada Orang yang Mati
Di daerah Banten lambang yang di pergunakan untuk menandakan bahwa ada orang yang meninggal ada beberapa macam. Yang umum dipergunakan adalah bendera putih, yaitu terdiri dari secarik kain putih yang diikatkan pada sebilah bambu dan dipancangkan dekat rumah keluarga orang yang meninggal. Di Serang, Pandeglang dan di daerah Rangkasbitung, selain menggunakn bendera putih juga digunakan kohkol ‘kentong’, bedug dan khusus di kota-kota sering pula digunakan pengeras suara. Bendera putih melambangkan kesucian, artinya bahwa orang yang meninggal itu harus dikenang atau diceritakan tentang kebaikannya saja. Sedangkan bunyi tongtong dan bedug yang berbeda bunyi tongtong dan bedug pada waktu sembahyang dimaksudkan untuk memberitahukan kepada warga kampung bahwa pada saat itu ada orang yang meninggal.
1.1.7 Persiapan Upacara
Persiapan upacara ngamandian, upacara mungkus, upacara nyolatkeun, upacara nguburkeun dan upacar nyusur tanah dilakukan secara serempak atau bersamaan
Bila ada orang meninggal, para tetangga datang melayat. Kaum laki-laki setelah melayat jenazah yang dibaringkan di tengah rumah, sebagian ada yang duduk di situ, sebagian lagi ada yang mengurus keperluan untuk ngamandian. Misalnya menyediakan dan membuat bantalan dari batang pohon pisang, menyediakan air bersih, bangku, air honje, sabun, air sapu merang, ada yang mengerjakan papan atau bambu untuk keperluan di kuburan, ada yang mengambil pasaran 'upacara mayat' dari mesjid, ada yang terus pergi ke kuburan untuk menggali kubur. Sedangkan kaum wanita sambil melayat itu biasanya membawa beras dan uang untuk diserahkan kepada keluarga yang ditinggal mati , dan biasanya mereka terus membantu– bantu bekerja misalnya memasak unluk keperluan upacara nyusur tanah 'upacara menyusur tanah', ada yang merangkai bunga , mengiris daun pandan kemudian dirangkai dengan benang untuk keperluan di kuburan dan hiasan pada usungan mayat. Secara terperinci persiapan-persiapan upacara tersebut dapat dibagi sebagai berikut:
a. Persiapan Upacara ngamandian 'upacara memandikan mayor '
Pertama kali menyiapkan tempal untuk memandikan mayat, biasanya di halaman rumah, baik di muka maupun di belakang rumah. Tempat yang dipakai untuk memandikan mayat diberi tutup dengan kain atau dinding bambu, disediakan pula sebuah bangku untuk membaringkan mayat. Di atas bangku diletakkan batang pisang untuk alas. Disediakan pula air yang ditempatkan dalam ember atau tempat air lainnya. Lengkap dengan gayung "penyeduh air' , disediakan air sapu, sabun, air honje. Setelah peralatan mandi sudah lengkap, mayat digotong ke tempat tersebut dan upacara memandikan mayat pun dimulai.
b. Persiapan Upacara mungkus 'upacara mengkafani
Alat-alat yang harus disediakan berupa kain berwarna putih, kapas dan gunting. Kain yang harus disediakan untuk mernbungkus mayat orang dewasa kira-kira 10 atau 12 meter, kapas secukupnya. Bagi mayat anak-anak diperlukan kain putih kira-kira 8 meter.
c. Persiapan Upacara penguburan
Perlengkapan untuk upacara penguburan antara lain pasaran 'usungan mayat', bunga rampai , air dalam kendi, untaian daun pandan, tikar, kain batik perempuan , payung, yang dipersiapkan eli rumah. Setelah mayat dikafani, kemuelian dibungkus dengan tikar dan elitempatkan eli dalam pasaran . Kemudian ditutup dengan tutup pasaran dan selanjutnya ditutup dengan kain batik wanita serta dikalungi dengan untaian Qunga dan daun pandan. Sedangkan persiapan lain yang elipersiapkan eli  rumah, ialah memotong papan atau bambu untuk tutup lubang lahat, membuat paesan 'nisan' ada yang dari papan, bambu atau batu . Pada waktu mayat dibawa ke kuburan perlengkapan tersebut bersama-sama dibawa.
Sedangkan persiapan di kuburan ialab mengg3ll kubur. Panjang kubur disesuaikan dengan tinggi pendekoya mayat. Pengukurannya diIakukan dengan menggunakan sebilab bambu yang diukurkan pada tinggi mayat ' sewaktu masih dibaringkan di rumab. Lebar kubur kira·kira setengab meter dan dalamnya lebih kurang 1,50 meter.
d. Persiapan Upacara
Nyusur tanah 'upacara menyusur tanah ' Menyediakan kue·kue baik yang dibuat sendiri maupun yang dibeli dari pasar atau warung, mernasak air untuk minum dan memasak nasi dengan lauk paukoya atau membuat nasi tumpeng. Persiapan tersebut biasanya diIakukan oleh perempuan.
e. Persiapan Upacara lahlilan
Untuk keperluan tablilan yang biasanya diadakan pada Malam harinya, kaum wanita mempersiapkan keperluan misalnya tepung beras atau ketan untuk membuat kue·kue berupa opak, rangginang, papais . Pada upacara tablilan poeanana 'pada hari orang meninggal', tiluna 'upacara setelab tiga hari orang meningga1' dan tujuhna 'upacara tablilan setelab tujuh hari orang meninggal', keluarga yang ditingga1 mati dibantu oleh beberapa orang tetangga, selain menyiapkan kue·kue atau makanan ringan, juga harus menyiapkan nasi dengan lauk paukoya atau menyediakan nasi tumpeng.

Demikian juga pada upacara matangpuluh 'upacara yang diadakan setelab 40 hari orang meninggal dunia', natus 'upacara yang diadakan setelab seratus hari orang meningga1 dunia dan mendak 'upacara yang diadakan setelab satu tabung orang meningga1 dunia' selain rnakanan ringan, juga nasi tumpeng atau nasi dengan lauk paukoya biasanya harus dipersiapkan.

1.1.8 Jalannya Upacara
1. Upacara Ngamandian 'upacara memandikan maya!'

Sambil menunggu persiapan untuk keperluan memandikan, mayat dibaringkan di bagian tengab rumab . Kepala mayat di sebelab timur, kaki mayat membujur ke arab barat , sehiogga muka mayat menghadap arab kiblat.

Mayat ditutup dengan samping kebat 'kain panjang' dari mulai kepala sampai kaki mayat. Tangan mayat terletak di atas perut, dengan posisi tangan kiri sebelah alas dan langan kanan ada di sebelah bawah, alau seperli posisi waktu sedang sembahyang, yailu langan kanan menumpang di atas tangan kiri.

Selelah' persiapan untuk memandikan mayal selesai, selanjulnya mayat digotong oleh beberapa orang laki·laki dibawa ke tempat unluk memandikan . Mayat dibaringkan di alas sebuah bangku yang dialasi dengan dua buah belah balang pohon pisang yang dirangkaikan dengan pasak bambu. Di bagian kepala dan kaki dialasi lagi dengan batang pohon pisang yang dipasang secara melintang, sehingga merupakan bantalan untuk kepala dan kaki mayat. Kewajiban untuk melaksanakan upacara memandikan mayat ini sebenamya merupakan kewajiban keluarga yang ditinggal mati, akantetapi seringkali pimpinan upacara diserahkan kepada penghulu amil , bila yang meninggal dunia itu seorang laki·laki. Bila orang yang meninggal itu seorang perempuan, maka pirnpinan upacara juga harus seorang perempuan. Setelah pimpinan upacara membacakan do'a, kemudian anggota keluarga orang yang meninggal dunia mengucurkan air pertama sebelum mayat itu disabuni secara bergantian. Setelah selesai digosok dengan sabun, kemudian mayat dikucuri lagi dengan air, dan setelah itu mayat digosok lagi dengan air honje . Setelah itu mayat diwerdonan 'dikeluarkan kotorannya dengan mengurutt bagian perutnya ke arah dubur'. Setelah bersih dirnandikan, kemudian mayat diangiran 'dibersihkan rambut dan kepalanya' dengan air sapu pare 'air yang dicampur dengan sapu merang yang terlebih dahulu dibakar' .

Di daerah-daerah kota memandikan mayat itu cukup hanya memakai sabun saja, tetapi di daerah pedesaan walaupun telah memakai sabun, harus juga memakai air honje dan air sapu dengan alasan sudah menjadi kebiasaan.

Setelah mayat selesai dimandikan, kemudian diwudlukan yang dilakukan oleh penghulu amil dengan cara mengucuci muka mayat dengan air dan mengusapnya tiga kali. Kemudian tangannya dari batas siku ke bawah dikucuri dengan air dan diusapnya masing·masing tiga kali dimulai dari tangan kanan, kemudian tangan kiri. Selanjutnya membasahi ubun·ubunnya, tetinga, mata kaki ke bawah dan diusap masing·masing tiga kali, dimulai dari kaki kanan kemudian kaki kiri.

Demikianlah mewudlukan mayat sarna persis caranya dengan orang yang mengambil air wudlu sebelum menunaikan ibadah sembahyang. Selesai mayal itu diwudlukan, kemudian mayat dihanduki untuk mengeringkan air yang masih menempel di badan mayat. Selelah itu mayat ditutup dengan kain kebal ' kain panjang wanita' dan selanjutnya diangkat dibawa ke dalam rumah, dibaringkan di tengah rumah dengan posisi arah kepala ke sebelah timur, kaki sebelah barat.

2. Upacara Mungkus atau Ngaboehan 'upaeara mengkafani mayat'

Upacara mungkus atau ngaboehan 'upacara mengkafani mayat' dilakukan oleh penghulu amil ' pelugas pamong desa yang bertugas mengurus masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan' atau oleh seseorang yang biasa melakukan pekerjaan tersebut, bila orang yang meninggal itu seorang laki·laki, sedangkan bila yang meninggal itu seorang perempuan, maka upacara ngaboehan itu dilakukan oleh seorang perempuan.

Sebelum dibungkus dengan boeh (kain kafan' yang berwama putih, mayat lerlebih dulu dikapasi pada bagian muka, bagian pergelangan tangan , bagian punggung kaki dan bagian kemaluan 'aurat'. Mayat perempuan dikapasi pula bagian buah dadanya. Setelah dikapasi, kemudian mayat dibungkus dengan kain kafan yang berwama putih yang panjangnya kira·kira 10 alau 12 meter untuk orang dewasa, 8 meter untuk anak-anak. Pada ujung kepala dan ujung kaki mayat, kain itu diikat dengan tali yang dibuat dari kain yang sarna. Demikian juga tali ini diikatkan pada bagian lutut mayal. Mayat dengan kain kafan tersebut disebut pocong.

Setelah selesai mengkafani, kemudian pasaran yang sudah disiapkan diletakkan di samping mayat, kemudian mayat tersebut dibungkus lagi dengan sehelai tikar dan diletakkan/ dibaringkan di atas pasaran 'usungan maya. Selanjutnya pasaran 'usungan mayat itu ditutup dengan tutup pasar·an. Kemudian tutup pasaran ilu ditutupi dengan kain panjang beberapa helai . Pada bagian kepala tutup pasaran itu ditandai dengan tutup kain yang dilipat supaya orang lidak keliru waktu mengusung mayat ke pekuburan.

Di atas kain penutup pasaran itu digantungi mangle 'untaian bunga" untaian daun pandan, dan diberi minyak wangi . Kesemuanya dimaksudkan agar usungan mayat itu tercium harum.

3. Upacara Nyolatkeun 'menyembahyangkan mayat'

Upacara menyembahyangkan mayat ada yang dilakukan di rumah keluarga orang yang meninggal, ada juga yang dilakukan di mesjid. Kalau upacara menyembahyangkan mayat itu dilakukan di mesjid, mayat yang sudah selesai dimasukkan ke dalam usungan mayat, kemudian digotong oleh empat orang laki·laki dibawa ke dalam mesjid. Di dalam mesjid mayat itu diletakkan di muka orang-orang yang akan menyembahyangkan, membujur arah utara (kepala mayat) dan selatan (kaki mayat). Demikian juga apabila upacara menyembahyangkan mayat itu di dalam rumah. Mayat diletakkan di muka orang-orang yang akan menyembahyangkan dengan posisi mayat membujur arah utara selatan. Kepala di sebelah utara, kaki di sebelah selatan.

Orang-orang yang akan menyembahyangkan mayat mengambil wudlu, kemudian mereka berjajar di belakang penghulu amil yang bertindak sebagai imam. Sembahyang yang dilakukan pada wakttu upacara menyembahyangkan mayat tidak ruku dan sujud, melainkan dengan berdiri sampai sembahyang tersebut selesai. Menurut anggapan masyarakat Banten lebih banyak orang yang ikut menyembahyangkan 'mayat lebih baik, karena lebih banyak do'a untuk orang yang meninggai. Upacara menyembahyangkan mayat sifatnya fardu kifayah artinya wajib bagi orang yang hidup untuk mengurus mayat bersama-sama. Apabila tidak dilakukan orang-orang yang mempunyai kewajiban itu akan mendapat siksa kelak.

Selesai upacara menyembahyangkan mayat, kemudian mayat digotong oleh empat orang laki-Iaki unluk dibawa ke kuburan . Pada waktu mayat digotong ke kuburan, kepala mayat harus terlelak di sebelah depan, kakinya di sebelah belakang. Pada waktu usungan mayat itu mau diberangkatkan ke kuburan , anggota keluarga, yaitu anak-anak dan istri, atau suami orang yang meninggal harus ngolong artinya berjalan di bawah kolong usungan tersebut. Maksud upacara ngolong tampaknya berbeda-beda, kemungkinan hanya mengikuli saja. Di daerah Banten dimaksudkan agar orang-orang yang dtinggal mati tidak terus bersedih, agar paler 'tidak selalu ingat' dan sadar bahwa dia pun kelak akan mengalami seperti itu. Dan apabila istri yang ditinggal mati itu sedang mengandung, dengan upacara ngolong itu agar supaya bayi dalam kandungan tidak menjadi anak yang lanus 'sering sakit'. Pada saat usungan mayat sampai di halaman rumah, kemudian dipayungi dengan payung panjang tepat pada bagjan kepala mayat. Setelah upacara ngolong selesai, maka usungan mayat itu dibawa ke kuburan, dengan didahului oleh orang-orang yang membawa air dalam kendi, bunga rampai yang ditempatkan pada sebuah bokor 'wadah yang terbuat dari kuningan' atau ayakan 'alat rumah tangga yang terbuat dari anyaman bambu kecil–kecil biasa dipakai untuk menyaring santan kelapa, atau tempat sayur-sayuraan’. Orang yang menggotong usungan mayat biasanya berganlian, terutama menjadi kewajiban keluarga atau kerabat dari orang yang meninggai. Di belakang usungan mayat beriringan orang-orang yang mengantar ke kuburan. Di antara mereka terdapat juga orang-orang yang sambil membawa papan atau potongan bambu untuk keperluan di kuburan. Orang yang mengantar ke kuburan di beberapa daerah Banten ada yang sambil berzikir keras-keras ada juga yang tidak melakukan itu.

4. Upacara Ngubur ‘Upacara Menguburkan’

Upacara penguburan disebut juga upacara ngurebkeun biasanya dilakukan oleh penghulu amil yang dibantu dua orang lainnya yang membantu menerima mayat dari atas dan membaringkan mayat di lubang lahat serta membantu memasang tataban 'penutup lubang lahat', Baik orang yang meninggal itu laki·laki maupun perempuan, upacara penguburan dilakukan oleh penghulu amil.

Pada waktu usungan mayat itu sampai di kuburan, maka usungan tersebut diletakkan di samping sebelah barat lubang kubur dengan posisi membujur arah utara ke selatan, Kain penutup pasaran 'usungan mayat' dibuka dan dilipat, payung juga dilipat (ditutupkan), tutup pasaran dibuka, tikar pembungkus mayat dibuka dan mayat tersebut diangkat oleh tiga orang, seorang dibagian kepala, seorang dibagian pinggang dan seorang lagi dibagian kaki. Setelah mayat diangkat, pasaran ditarik digolosorkeun (digeser) sampai tidak menghalangi orang yang mengangkat mayat.

Kemudian mayat disodorkan kepada tiga orang yang berada di dalam lubang kubur, seorang diantaranya ialah penghulu amil yang akan bertindak melaksanakan upacara penguburan, dan dua orang yang lainnya hanya membantu menerima mayat waktu disodorkan dari atas, Tali pembungkus mayat kemudian dibuka dan mayat diletakkan miring di dalam lubang lahat dengan posisi mayat membujur arah utara selatan, kepala di sebelah utara kaki di sebelah selatan, sehingga muka mayat menghadap kesebelah barat (kiblat). Untuk mengganjali mayat di dalam lubang lahat agar tetap dalam keadaan miring, dibuatlah pengganjal dari tanah galian yang dibentuk bulatan-bulatan menyerupai bola kecil yang disebut gegelu ‘pengganjal mayat di dalam kubur’ terbuat dari tanah yang dibentuk bulatan-bulatan kecil sebesar kepal, Gegelu ini banyaknya tujuh (7) buah dipasang pada bagian punduk 'tengkuk' sebuah dibagian walikat 'belikat' dua buah, bobokong 'tulang pinggul' dua buah, cecekolan 'lutut sebelah belakang sebuah dan pada bagian keuneung 'tumit' sebuah.

Setelah tali kafan dibuka dan dikendorkan, penghulu amil kemudian membacakan doa yang dibisikan ke telinga kiri mayat, selesai membaca do'a kemudian penghulu amil mengambil papan kayu atau bambu yang telah tersedia dan mesangnya sebagai penutup lubang lahat. Selesai menutup lubang lahat, kemudian penghulu amil atau seorang diantara pengantar berazan dan selanjutnya penghulu amil naik ke atas digantikan oleh beberapa orang, biasanya yang membantu pada awal penguburan turun kembali ke dalarn kubur. Tikar bekas bungkus mayat dibeberkan, masing·masing ujung dipegang oleh seorang yang berdiri ditepi lubang kubur. Tikar itu merentang arah utara selatan tepat di belakang atau bagian punggung orang-orang yang betada di dalam lubang kubur. Selanjutnya kubur itu ditimbuni tanah bekas galian dan setiap tanah yang masuk ke dalam lubang kubur diinjak-injak oleh mereka yang berada di dalam lubang kubur. Maksud dari tikar direntangkan tidak lain agar tanah yang ditimbunkan dari atas tidak mengotori pakaian orang-orang yang bekerja menginjak-injak tanah galian tersebut. Maksudnya adalah agar timbunan itu neundeut 'pejal atau padat'. Sebelum penuh dengan timbunan tanah kuburan itu pada ujung sebelah utara tepat pada letak kepala mayat dan pada ujung sebelah selatan tepat pada kaki mayat di samping tetengger atau paesan, terbuat dari papan, bambu, atau batu sebagai ciri atau tanda untuk menunjukkan bahwa kuburan itu merupakan kuburan baru. Biasanya pada paesan 'ciri atau tanda' itu dituliskan nama dan waktu wafatnya seseorang yang biasanya ditulis dengan menggunakan huruf Arab. Akan tetapi kebanyakan lelengger atau paesan itu cukup dengan meletakkan batu di kedua ujung kuburan. Selain itu di belakang atau di depan tetengger sebelah utara biasanya ditandai atau ditanami pohon hanjuang. Kebiasaan ini menurut penjelasan beberapa orang penghulu amil merupakan sunah nabi, karena pada suatu waktu Nabi Muhammad saw menancapkan pohon kurmadi atas kuburan setelah selesai upacara penguburan. Jadi pohon hanjuang ditanam di atas kuburan maksudnya sebagai tanda bahwa di situ ada kuburan karena pesan dari batu atau kayu kemungkinan rusak atau hilang, sedangkan pohon hanjuang akan tumbuh bertambah besar.

Setelah kubur ditimbuni, di atasnya ditaburi bunga-bungaan yang disebut rampe ‘bunga rampai’ dan dikucuri air yang sudah disiapkan dari rumah, kemudian penghulu amil membacakan do'a talkin dengan maksud menutup upacara sakral penguburan dan memberikan peringatan kepada orang yang masih hidup agar lebih meningkatkan amal baik dalam mengisi sisa hidup. Karena kelak dalam waktu yang tak dapat dipastikan akan mengalami seperti orang yang baru saja mereka kuburkan. Di samping itu talkin ini dimaksudkan juga untuk mendo'akan arwah orang yang meninggal yang kini telah berada di dalam kubur agar diampuni Tuhan semua dosa yang telah diperbuatnya selam ia hidup.

Selanjutnya setelah selesai pembacaan talkin tersebut, biasanya ada orang yang mewakili keluarga yang ditinggalkan. Dia berbicara dengan maksud menyampaikan rasa terima kasih kepada semua orang yang telah turut membantu melaksanakan upacara dan mengurus penguburan serla memintakan maaf bagi orang yang meninggal, memohon agar orang yang hadir juga memaafkan segala kesalahan yang mungkin diperbuat almarhum, memohon keridlaan untuk mendoakan arwah almarhum, serta keridloan untuk membebaskan almarhum atas utang piutangnya yang mungkin belum sempat dibayar semasa hidupnya. Utang almarhum kini sudah menjadi utang keluarganya apabila tidak bisa dibebaskan. Selain itu dikemukakan pula agar hadirin ikut mendoakan almarhum agar dibebaskan atau diringankan dari siksa kubur dan diterima oleh Tuhan Yang Mahaesa sesuai dengan amal perbuatannya selama masih hidup.

Setelah itu orang-orang pulang dari kuburan menuju ke rumah keluarga orang yang meninggal untuk melaksanakan upacara nyusur tanah ‘upacara menyusur tanah’ . Pada waktu pulang ada orang yang menggotong pasaran 'usungan mayat ' untuk disimpan kembali ke tempatnya di dekat mesjid, ada yang membawa payung yang juga disimpan bersama pasaran 'usungan mayat’ .
Kain bekas penutup usungan mayat dibawa pulang, sedangkan tikar bekas pembungkus dan alas mayat biasanya diberikan kepada penghulu amil atau kepada penggali kubur. Di beberapa desa masih ada yang mempergunakan usungan mayat yang hanya dipakai sekali saja, yang terbuat dari bambu, mendadak dibuat apabila ada orang .yang meninggal. Usungan mayat demikian disebut pasaran dan setelah selesai penguburan, pasaran itu ditinggalkan di kuburan atau dibuang. Usungan mayat seperti tersebut di atas yaitu usungan mayat yang bersifat permanen disebut dongdang atau kurung dedes ‘kurungan musang’.

Usungan mayat yang dibuat secara mendadak apabila ada orang yang meninggal, bekasnya yaitu bambunya menurut kepercayaan orang baik sekali apabila dipergunakan luntuk membuat jeujeur "joran" untuk mengaii, apalagi bila pasaran itu bekas dipergunakan mengusung mayat orang yang mati pada malam Jum'at.

Pada waktu pulang dari kuburan, biasanya dibagikan nasi bungkus atau uang receh kepada anak·anak yang elisebut salawat (arti yang sebenamya dari salawat adalah memuji dan menghormati serta mendoakan kepada Nabi Muhammad saw).
5. Upacar Nyusur Tanah 'upacara menyusur tanah'

Setelah selesai upacara penguburan, di rumah keluarga orang yang meninggal diadakan upacara nyusur tanah ‘upacara menyusur tanah’ . Penghulu amil dan orang-orang yang mengantar ke kuburan yang mau mengikuti upacara tersebut duduk berjejer di ruangan tengah rumah. Sedangkan di tengah-tengah telah tersedia hidangan nasi dengan lauk pauknya atau nasi tumpeng. Setelah tidak ada yang ditunggu lagi, penghulu amil mengucapkan ijab Kabul "kata-kata pembukaan". Kata-kala pembukaan dalam upacara itu, yang mengemukakan atas nama keluarga yang ditinggal, ucapan terima kasih kepada semua hadirin yang telah ikut membantu melaksanakan upacara penguburan , serta nasihat kepada keluarga tersebut agar telap tabah dan dikuatkan imannya menghadapi cobaan tersebut.

Selesai pembukaan, kemudian penghulu amil membakar kemenyan dan dilanjutkan dengan membacakan do'a, maka selesai pulalah upacara itu, kemudian orang yang haelir menyantap makanan yang telah disediakan.

Maksud dari nyusur tanah ‘upacara menyusur tanah’ sebenamya ungkapan rasa terima tkasih keluarga yang ditinggal mati kepada semua orang yang telah turut membantu upacara penguburan, etang·etang buruh cape 'seakan-akan penawar lelah setelah pulang, balik dari kuburan'. Ngukus 'pembakaran kemenyan, sebelum membacakan doa bagi beberapa daerah di wilayah Banten tidak dilakukan, terulama daerah perkotaan. Di daerah-daerah pedesaan kebiasaan ngukus "pembakaran kemenyan" masih sering dilakukan.

Setelah selesai makan, maka selesai pulalah upacara nyusur tanah "upacara menyusur  tanah", dan orang-orang yang hadir kini pulang ke rumahnya masing·masing, atau mereka kembali ke tempat pekerjaan semula.

Menurut kepercayaan orang, makanan yang dihidangkan dalam upacara nyusur tanah "upacara menyusur tanah" itu rasanya kurang enak, hambar "tawar" , karena sarinya telah dimakan oleh arwah orang yang meninggal dan menurut kepercayaan pula bahwa selama tujuh hari arwah tersebut masih berada di lingkungan rumah si mati, masih ikut makan minum. Oleh karena, itu perlu diselenggarakan upacara tahlilan sampai ketujuh harinya.

Karena anggapan yang demikian banyak diantaranya yang menjadi tabu untuk makan makanan pada upacara menyusur tanah dan tahlilan. Walaupun ia ikut hadir pada waktu diadakan upacara, ia tidak mau makan, paling·paling hanya minum saja sebagai penghormatan kepada keluarga yang menghidangkan makanan tersebut.
Walaupun demikian upacara tahlilan seringkali dikatakan upacara poeanana "hari pertama" tiluna "hari ke tiga", tujuhna "hari ke tujuh" bukan berarti hari kedua, keempat dan keenam itu tidak diadakan upacara tahlilan, seperti halnya pada masyarakat Baduy.

6. Upacara Poeanana "Upacara Hari Pertarna Meninggal"

Setelah upacara penguburan dan upacara nyusur tanah "upacara menyusur tanah", pada malam harinya biasanya setelah waktu sembahyang Magrib, para tetangga yang berdekatan rumah dengan keluarga yang baru saja ditinggal mati berkumpul . Tidak usah diundang lebih dahulu pada tetangga itu dengan sukarela datang untuk melaksanakan upacara tahlilan. Upacara ini dipimpin oleh penghulu amil atau oleh seorang yang biasa memimpin upacara demikian diantara para tetangga.

Upacara tahlilan ini merupakan upacara pembacaan doa dan zikir sebagai permohonan kepada Tuhan Yang Mahaesa, agar arwah orang yang baru saja meninggal dunia diampuni segala dosanya, diterima dan ditempatkan di tempat yang layak sesuai dengan amal ibadahnya selama ia masih hldup, serta mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan tetap tabah dan tebal iman menghadapi cobaan. Demikian juga orang-orang yang hadir akan senantiasa diberkati rahmal Tuhan, diberikan keselamatan lahir balin.

Pada waktunya upacara dimulai, penghulu amil atau pimpinan upacara mengucapkan ijab kabul "pembukaan dengan mengemukakan maksud upacara" dan mengucapkan terima kasih atas nama keluarga yang ditinggal mati atas keridlaan para hadirin yang dengan suka rela ikut dalam upacara tersebut. Biasanya sebelum ijab kabul ilu diucapkan, pimpinan upacara terlebih dahulu membakar kemenyan.

Selelah selesai ijab kabul, pimpinan upacara kemudian membaca surat Al·Fatihah, dilanjulkan dengan membaca surat-surat yang lain yang selelah sekali diucapkan oleh pimpinan upacara diikuti bersama-sama oleh hadirin. Setiap surat dibacakan bersama sampai 33 kali. Demikian selerusnya hingga semua sural yang perlu diucapkan bersama-sama dan diakhiri oleh surat Al·Fatihah lagi. Pada waktu mengucapkan surat Al·Fatihah terakhir yang dilakukan oleh pimpinan upacara, hadirin yang lain tidak mengikutinya bersama-sama, dan pada akhir surat itu hadirin mengucapkan amin, hingga selesai doa-doa yang lain diucapkan pimpinan upacara.

Setelah selesai pembacaan doa, dihidangkan makanan yang berupa nasi dengan lauk pauknya atau nasi lumpeng. Hadirin kemudian makan bersama dan setelah makan disediakan pula kue-kue atau makanan ringan yang lainnya.

Bagi orang-orang yang marnpu orang-orang yang mengikuti upacara itu pada waktu pulang dibekali juga makanan atau nasi tumpeng unluk dibawa pulang ke rumah masing-masing dan membagikan makanin serupa kepada tetangga-tetangga yang tidak ikut hadir dalam upacara tersebut.

7. Upacara Tujuhna atau Tujuh harian "Upacara hari kelujuh"

Pelaksanaan upacara tujuh harian tidak berbeda dengan pelaksanaan pada upacara kesatu. Seperti halnya pada upacara poeanana "hari kesatu", maka upacara.yang dilaksanakan pada upacara tujuhna "hari ketujuh" ini biasanya disertai dengan menyembelih temak, misalnya ayam.

Pada upacara tujuhna "hari ketujuh" seperti halnya pada upacara poeanana "hari pertama" para tetangga datang berkumpul ke rumah keluarga yang ditinggal mati untuk mengadakan tahlilan yaitu membacakan doa bersam-sama.

Selesai pembacaan doa bersarna, hadirin disuguhi makan dan kadang-kadang mereka dibekali hidangan atau makanan sewaktu mereka pulang. Tetangga yang tidak ikut hadir pun dikirim "diantari idangan atau berkat "hidangan , makanan" . Karena pada upacara tujuhna atau tujuh harian merupakan upacara yangagak besar, biasanya tetangga-tetangga ikut membantu menyumbangkan beras atau uang atau bahan keperluan yang lainnya.

8. Upacara Matang Puluh Keempat puluh hari

Kecuali di daerah Baduy upacara kernatian seseorang hanya dilaksanakan sampai upacara tujuhna "hari ketujuh". Setelah itu tidak ada lagi upacara. Tetapi pada masyarakat Banten di luar Baduy upacara kematian itu masih diperingati pada hari keempat puluh yang disebut upacara matangpuluh "keempat puluh hari".

Pelaksanaan upacara matangpuluh ''keempat puluh hari" itu sama saja dengan pelaksanaan pada upacara tujuhna ”ketujuh hari".

9. Upacara Natus atau Nyeratus “Upacara Keseratus Hari”

Walaupun dalarn pelaksanaannya tidak berbeda dengan upacara-upacarasebelumnya, namun bagi orang yang mampu upacara ini merupakan upacara paling besar dibandingkan dengan upacara-upacara kematian sebelumnya. Biasanya dalarn upacara itu disembelih ternak seperti karnbing, malahan kerbau atau sapi.


1.1.9 Keharusan

Menjadi keharusan bagi orang yang masih hidup untuk mengurus mayat dan menguburkannya. Keharusan itu merupakan fardu kifayah yang berarti kewajiban umum untuk mengurus secara bersarna-sarna karena hukumnya wajib, maka bila tidak dilaksanakan berdosa.

Keharusan ini meliputi keharusan memandikan mayat, mengkainkafani, menyembayangkan dan menguburkan. Ini berarti pula suatu keharusan bagi orang yang meninggal untuk dlmandikan, diwudlukan, dikainkafani, disembahyangkan sebelum dikuburkan dan selanjutnya keharusan untuk dikuburkan.

Sedangkan pembacaan talkin setelah selesai penguburan tidak merupakan suatu keharusan dan hukumnya sunat, artinya bila dilakukan akan mendapat pahala, dilakukan tidak berdosa. Kain kafan harus berwama putih dan sebelum dikafani mayat itu harus dikapasi terutama bagian yang disebut aurat.

Kuburan harus cukup dalamnya, kira·kira 1,5 meter bagi orang dewasa dan 1 meter bagi anak-anak. Keharusan ini menjaga jangan sampai mayat dikoreh "dibongkar" binatang buas. Panjangnya kuburan harus longgar bila mayat dimasukkan. Pemasangan tataban "penutup lubang lahat" merupakan keharusan, walaupun boleh menggunakan papan atau batangan bambu. Kuburan memakai lubang lahat pun merupakan keharusan. Lubang lahat ini boleh dibuat di sisi sebelah baraat kubur atau di tengah·tengah, tergantung dari keadaan tanahnya. Pada tanah yang mudah longsor. Lubang lahat itu dibuat di tengah.

Melakukan azan setelah mayat ditutup dengan tataban "penutup lubang lahat" ada yang mengatakan sebagai suatu keharusan, tetapi ada lagi yang menganggap tidak boleh.

Menanami kuburan dengan pohon·pohon seperti hanjuang, kamboja dan sebagainya merupakan suatu keharusan, karena dapat dipergunakan sebagai tanda, terutama bag; orang yang bermaksud untuk berziarah. Demikian juga kuburan harus ditanami pohon·pohon besar yang rindang bahkan di daerah Baduy kuburan itu merupakan hutan. Suatu keharusan pula ialah bahwa bila ada orang yang meninggal harus secepatnya dikuburkan, mayat tidak boleh disimpan lama-1ama di rumah.

Bagi beberapa daerah di Banten tahlilan itu merupakan suatu keharusan, sedangkan bagi beberapa daerah lainnya tahlilan tersebut bukan merupakan. keharusan, malahan dipandang sebagai kebiasaan yang ketentuan agama Islam, kecuali upacara nyusur tanah "upacara menyusur tanah” merupakan suatu keharusan untuk mengiringi kepergian orang yang mati.

1.1.10 Pantangan
Berziarah ke kuburan tidak merupakan suatu pantangan. Yang merupakan pantangan adalah meminta·minta ke kuburan, artinya memohon sesuatu (seperti misa1nya kekayaan, keselamatan) ke kuburan atau kepada kuburan kuburan yang dianggap keramat.

Pantang sebenamya bagi perempuan ikut mengantar mayat ke kuburan, akan tetapi karena kebiasaan, pantangan tersebut seperti tidak berlaku lagi. Orang yang menganggap pantang bagi perempuan mengantar ke kuburan dengan alasan tidak ada pekerjaan yang dapat dikerjakan perempuan sehubungan dengan upacara penguburan, paling juga menangis yang dapat merepotkan orang lain.


2.1  Kesimpulan


Upacara yang diadakan dalam upacara di Banten dapat dibagi kedalam dua bagian, yaitu: (1) Upacara yang berhubungan dengan pengurusan mayat sampai mayat dikuburkan, (2) Upacara yang dilakukan setelah penguburan.

Upacara yang dilakukan sehubungan dengan pengurusan mayat terdiri dari:
1. Upacara ngamandian ‘upacara memandikan mayat’
2. Upacara mungkus mayat ‘upacara mengkafani mayat’
3. Upacar nyolatkeun mayit ‘upacar menyembahyangkan mayat’
4. Upacara ngurebkeun atau nguburkuen ‘upacara menguburkan mayat’
Sedangkan upacara yang dilakukan setelah upacara penguburan, yaitu:
1. Upacara nyusur tanah ‘upacara menyusur tanah’
2. Upacara tiluna ‘upacara tiga harian’
3. Upacara tujuhna ‘upacara tujuh harian’
4. Upacara matangpuluh ‘upacara empat puluh harian’
5. Upacra natus ‘upacara seratus hari’
6. Upacara mendak ‘setelah setahun’
7. Dan newu ‘upacara keseribu hari’