Senin, 21 Desember 2015

Tradisi Ritual Kematian di Banten

BAB I Isi
1.1 Deskripsi Upacara Kematian di Banten
1.1.1  Nama Upacara
Upacara yang diadakan dalam upacara di Banten dapat dibagi kedalam dua bagian, yaitu: (1) Upacara yang berhubungan dengan pengurusan mayat sampai mayat dikuburkan, (2) Upacara yang dilakukan setelah penguburan. Yang terdapat di kabupaten Pandeglang, Serang dan Lebak.
Upacara yang dilakukan sehubungan dengan pengurusan mayat terdiri dari:
1. Upacara ngamandian ‘upacara memandikan mayat’
2. Upacara mungkus mayat ‘upacara mengkafani mayat’
3. Upacar nyolatkeun mayit ‘upacar menyembahyangkan mayat’
4. Upacara ngurebkeun atau nguburkuen ‘upacara menguburkan mayat’
Sedangkan upacara yang dilakukan setelah upacara penguburan, yaitu:
1. Upacara nyusur tanah ‘upacara menyusur tanah’
2. Upacara tiluna ‘upacara tiga harian’
3. Upacara tujuhna ‘upacara tujuh harian’
4. Upacara matangpuluh ‘upacara empat puluh harian’
5. Upacra natus ‘upacara seratus hari’
6. Upacara mendak ‘setelah setahun’
7. Dan newu ‘upacara keseribu hari’
Di wilayah Banten sebelah barat terutama orang-orang yang mampu, setelah upacara-upacara tersebut diatas, kadang-kadang mengadakan upacara kelima belas hari. Upacara yang dilakukan setelah penguburan semuanya disebut upacara tahlilah. Dan upacara tahlilan ini biasanya dilakukan pada waktu malam hari, kecuali upacara nyusur tanah dilaksanakan siang hari
1.1.2  Waktu Upacara
Upacara ngamandian ‘upacara memandikan mayat’ dilakukan pada siang hari, walaupun seseorang itu meninggal pada malam hari. Sedangkan upacara mungkus mayit dilaksanakan setelah mayat tersebut dimandikan dan diwudhukan. Demikian pula upacar penguburan dilaksanakan setelah selesai upacara penguburan.
Upacara yang biasa dilaksanakn pada malam hari ialah upacara tahlilan ‘upacara membaca do’a untuk mendo’akan agar arwah orang yang meninggal diampuni dosa-dosanya dan diterima serta ditempatkan di tempat yang layak di sisi Tuhan’. Upacara tahlilan biasanya dilaksanakn setelah waktu sembahyang maghrib atau isa. Kecuali pada upacara natus dan upacara mendak biasanya dilaksanakan pada siang hari, sedangkan malam harinya diadakan lagi upacara tahlilan.
1.1.3  Tempat Upacara
Upacara ngamandian biasanya dilakukan dengan mengambil tempat di luar rumah, baik di muka rumah maupun di pipinggir rumah. Tempat upacara memandikan, baik di muka atau di pinggir rumah di sekelilingnya harus ditutup dengan kain atau penghalang agar mayat tidak secara langsung kelihatan oleh umum. Sesuai dengan nama upacara ngamandian, mka tempat memandikan harus tertutup, seperti layaknya kamar mandi.
Upacara mungkus dilakukan di dalam rumah, biasanya dilakukan di bagian tengah rumah. Upacara nyolatkeun dilakukan di rumah atau di masjid.
Upacara nyusur tanah dilakukan dirumah, setelah upacara penguburan selesai. Sedangkan upacara tahlilan dilakukan didalam rumah.
1.1.5 Orang yang Terlibat dan Jam Upacara

Dalam upacara kematian yang terlibat secara langsung adalah keluarga, kerabat dan tetangga orang yang meninggal dipimpin oleh penghulu amil 'seorang pamong desa yang bertugas mengurus soal-soal yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan'.

Upacara ngamandian 'upacara memandikan mayat' merupakan kewajiban keluarga dan kerabat dari orang yang meninggal sehingga walaupun penghulu amil 'pamong desa yang bertugas mengurusi masalah-masalah keagarnaan’ bertindak sebagai pimpinan upaeara orang yang meninggal ikut memandikannya.

Upacara mungkus, 'mengkafani mayat' dilakukan oleh penghulu amiI, sedangkan dalam upacara nyolatkeun 'menyembahyangkan mayat' lebih banyak orang yang terlibal, baik keluarga, kerabat maupun tetangga dianggap lebih sempuma. Upacara menyembahyangkan mayat ini dipimpin oleh penghulu amil yang berlindak sebagai imam.

Sedangkan di dalarn upacara penguburan lebih banyak lagi orang yang terlibat. Kebanyakan para tetangga yang tidak sempat membantu pekerjaan–pekerjaan dan jam penyelenggaraan upacara sebelumnya, pada upacarapenguburan mereka menyempatkan diri untuk mengantar ke kuburan. Upacara penguburan ini pun dipimpin oleh penghulu amil.

Demikian juga upaeara menyusur tanah dilakukan oleh keluarga, kerabat dan para tetangga yang ikut mengantar ke kuburan. Upacara nyusur tanah 'upacara menyusur tanah' masih dipirnpin oleh penghulu amil 'petugas pamong desa yang mengurusi masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan'.

Upacara tahlilan dilakukan di rumah keluarga orang yang meninggal, dihadiri oleh tetangga·tetangga dekat untuk bersama-sasa membacakan ayat·ayat suci AI·Qur'an. Upacara tahlilan dipirnpin oleh seorang tua yang ahli dalam bidang tersebut atau oleh penghulu amil bila tempat berdekatan dengan rumah keluarga dari orang yang meninggal. Jadi dalam upacara tahlilan ini orang yang terlibat terbatas kepada keluarga dan tetangga·tetangga dekat saja.


1.1.5  Tujuan Upacara
Upacara ngamandian ‘upacara memandikan mayat’ bertujuan agar mayat tersebut bersih dan bebas dari kotoran dan najis. Selain itu, mayat tersebut sebelum dikuburkan harus suci, oleh karena itu setelah dimandikan mayat itu kemudian diwudhuan, tujuannya agar mayat itu sudah sucu sebelum menghadap Tuhan.
Sedangkan upacara mungkus ‘upacara mengkafani mayat’ dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa orang yang meninggal itu telah bersih dan suci sebelum menghadap Tuhan.
Upacara nyolatkeun bertujuan untuk mendoakan arwah yang meninggal agar diampuni Tuhan atas segala dosa-dosanya dan agar diterima serta ditempatkan di tempat yang layak sesuai dengan amal dan perbuatannya selama masih hidup.
Upacara nyusur tanah ‘upacara menyusur tanah’ selain dimksudkan untuk mendo’akan arwah orang yang baru saja dikuburkan juga bertujuan memberi makan minum kepada orang-orang yang telah mengantar ke kuburan sebagai rasa terima kasih keluarga yang ditinggalkan kepada semua orang yang telah mengurus penguburan.
Upacara tahlilan bertujuan mendo’akan agar arwah orang yang meninggal itu diampuni dosa-dosanya. Selain itu upacara tahlilan dimaksudkan juga untuk sekedar mengurangi kesedihan keluarga yang ditinggalkan. Demikian juga upacara natus atau nyeratus, dan mendak ‘upacara setelah setahun meninggal’ dimaksudkan untuk mendo’akan arwah orang yang meninggal tersebut. Upacara mendak merupakan upacara terakhir dalam rangkaian upacara kematian sebelum newu atau nyewu ‘keseribu hari’, sehingga dalam pelaksanaannya biasanya merupakan upacara besar.
1.1.6 Lambang ada Orang yang Mati
Di daerah Banten lambang yang di pergunakan untuk menandakan bahwa ada orang yang meninggal ada beberapa macam. Yang umum dipergunakan adalah bendera putih, yaitu terdiri dari secarik kain putih yang diikatkan pada sebilah bambu dan dipancangkan dekat rumah keluarga orang yang meninggal. Di Serang, Pandeglang dan di daerah Rangkasbitung, selain menggunakn bendera putih juga digunakan kohkol ‘kentong’, bedug dan khusus di kota-kota sering pula digunakan pengeras suara. Bendera putih melambangkan kesucian, artinya bahwa orang yang meninggal itu harus dikenang atau diceritakan tentang kebaikannya saja. Sedangkan bunyi tongtong dan bedug yang berbeda bunyi tongtong dan bedug pada waktu sembahyang dimaksudkan untuk memberitahukan kepada warga kampung bahwa pada saat itu ada orang yang meninggal.
1.1.7 Persiapan Upacara
Persiapan upacara ngamandian, upacara mungkus, upacara nyolatkeun, upacara nguburkeun dan upacar nyusur tanah dilakukan secara serempak atau bersamaan
Bila ada orang meninggal, para tetangga datang melayat. Kaum laki-laki setelah melayat jenazah yang dibaringkan di tengah rumah, sebagian ada yang duduk di situ, sebagian lagi ada yang mengurus keperluan untuk ngamandian. Misalnya menyediakan dan membuat bantalan dari batang pohon pisang, menyediakan air bersih, bangku, air honje, sabun, air sapu merang, ada yang mengerjakan papan atau bambu untuk keperluan di kuburan, ada yang mengambil pasaran 'upacara mayat' dari mesjid, ada yang terus pergi ke kuburan untuk menggali kubur. Sedangkan kaum wanita sambil melayat itu biasanya membawa beras dan uang untuk diserahkan kepada keluarga yang ditinggal mati , dan biasanya mereka terus membantu– bantu bekerja misalnya memasak unluk keperluan upacara nyusur tanah 'upacara menyusur tanah', ada yang merangkai bunga , mengiris daun pandan kemudian dirangkai dengan benang untuk keperluan di kuburan dan hiasan pada usungan mayat. Secara terperinci persiapan-persiapan upacara tersebut dapat dibagi sebagai berikut:
a. Persiapan Upacara ngamandian 'upacara memandikan mayor '
Pertama kali menyiapkan tempal untuk memandikan mayat, biasanya di halaman rumah, baik di muka maupun di belakang rumah. Tempat yang dipakai untuk memandikan mayat diberi tutup dengan kain atau dinding bambu, disediakan pula sebuah bangku untuk membaringkan mayat. Di atas bangku diletakkan batang pisang untuk alas. Disediakan pula air yang ditempatkan dalam ember atau tempat air lainnya. Lengkap dengan gayung "penyeduh air' , disediakan air sapu, sabun, air honje. Setelah peralatan mandi sudah lengkap, mayat digotong ke tempat tersebut dan upacara memandikan mayat pun dimulai.
b. Persiapan Upacara mungkus 'upacara mengkafani
Alat-alat yang harus disediakan berupa kain berwarna putih, kapas dan gunting. Kain yang harus disediakan untuk mernbungkus mayat orang dewasa kira-kira 10 atau 12 meter, kapas secukupnya. Bagi mayat anak-anak diperlukan kain putih kira-kira 8 meter.
c. Persiapan Upacara penguburan
Perlengkapan untuk upacara penguburan antara lain pasaran 'usungan mayat', bunga rampai , air dalam kendi, untaian daun pandan, tikar, kain batik perempuan , payung, yang dipersiapkan eli rumah. Setelah mayat dikafani, kemuelian dibungkus dengan tikar dan elitempatkan eli dalam pasaran . Kemudian ditutup dengan tutup pasaran dan selanjutnya ditutup dengan kain batik wanita serta dikalungi dengan untaian Qunga dan daun pandan. Sedangkan persiapan lain yang elipersiapkan eli  rumah, ialah memotong papan atau bambu untuk tutup lubang lahat, membuat paesan 'nisan' ada yang dari papan, bambu atau batu . Pada waktu mayat dibawa ke kuburan perlengkapan tersebut bersama-sama dibawa.
Sedangkan persiapan di kuburan ialab mengg3ll kubur. Panjang kubur disesuaikan dengan tinggi pendekoya mayat. Pengukurannya diIakukan dengan menggunakan sebilab bambu yang diukurkan pada tinggi mayat ' sewaktu masih dibaringkan di rumab. Lebar kubur kira·kira setengab meter dan dalamnya lebih kurang 1,50 meter.
d. Persiapan Upacara
Nyusur tanah 'upacara menyusur tanah ' Menyediakan kue·kue baik yang dibuat sendiri maupun yang dibeli dari pasar atau warung, mernasak air untuk minum dan memasak nasi dengan lauk paukoya atau membuat nasi tumpeng. Persiapan tersebut biasanya diIakukan oleh perempuan.
e. Persiapan Upacara lahlilan
Untuk keperluan tablilan yang biasanya diadakan pada Malam harinya, kaum wanita mempersiapkan keperluan misalnya tepung beras atau ketan untuk membuat kue·kue berupa opak, rangginang, papais . Pada upacara tablilan poeanana 'pada hari orang meninggal', tiluna 'upacara setelab tiga hari orang meningga1' dan tujuhna 'upacara tablilan setelab tujuh hari orang meninggal', keluarga yang ditingga1 mati dibantu oleh beberapa orang tetangga, selain menyiapkan kue·kue atau makanan ringan, juga harus menyiapkan nasi dengan lauk paukoya atau menyediakan nasi tumpeng.

Demikian juga pada upacara matangpuluh 'upacara yang diadakan setelab 40 hari orang meninggal dunia', natus 'upacara yang diadakan setelab seratus hari orang meningga1 dunia dan mendak 'upacara yang diadakan setelab satu tabung orang meningga1 dunia' selain rnakanan ringan, juga nasi tumpeng atau nasi dengan lauk paukoya biasanya harus dipersiapkan.

1.1.8 Jalannya Upacara
1. Upacara Ngamandian 'upacara memandikan maya!'

Sambil menunggu persiapan untuk keperluan memandikan, mayat dibaringkan di bagian tengab rumab . Kepala mayat di sebelab timur, kaki mayat membujur ke arab barat , sehiogga muka mayat menghadap arab kiblat.

Mayat ditutup dengan samping kebat 'kain panjang' dari mulai kepala sampai kaki mayat. Tangan mayat terletak di atas perut, dengan posisi tangan kiri sebelah alas dan langan kanan ada di sebelah bawah, alau seperli posisi waktu sedang sembahyang, yailu langan kanan menumpang di atas tangan kiri.

Selelah' persiapan untuk memandikan mayal selesai, selanjulnya mayat digotong oleh beberapa orang laki·laki dibawa ke tempat unluk memandikan . Mayat dibaringkan di alas sebuah bangku yang dialasi dengan dua buah belah balang pohon pisang yang dirangkaikan dengan pasak bambu. Di bagian kepala dan kaki dialasi lagi dengan batang pohon pisang yang dipasang secara melintang, sehingga merupakan bantalan untuk kepala dan kaki mayat. Kewajiban untuk melaksanakan upacara memandikan mayat ini sebenamya merupakan kewajiban keluarga yang ditinggal mati, akantetapi seringkali pimpinan upacara diserahkan kepada penghulu amil , bila yang meninggal dunia itu seorang laki·laki. Bila orang yang meninggal itu seorang perempuan, maka pirnpinan upacara juga harus seorang perempuan. Setelah pimpinan upacara membacakan do'a, kemudian anggota keluarga orang yang meninggal dunia mengucurkan air pertama sebelum mayat itu disabuni secara bergantian. Setelah selesai digosok dengan sabun, kemudian mayat dikucuri lagi dengan air, dan setelah itu mayat digosok lagi dengan air honje . Setelah itu mayat diwerdonan 'dikeluarkan kotorannya dengan mengurutt bagian perutnya ke arah dubur'. Setelah bersih dirnandikan, kemudian mayat diangiran 'dibersihkan rambut dan kepalanya' dengan air sapu pare 'air yang dicampur dengan sapu merang yang terlebih dahulu dibakar' .

Di daerah-daerah kota memandikan mayat itu cukup hanya memakai sabun saja, tetapi di daerah pedesaan walaupun telah memakai sabun, harus juga memakai air honje dan air sapu dengan alasan sudah menjadi kebiasaan.

Setelah mayat selesai dimandikan, kemudian diwudlukan yang dilakukan oleh penghulu amil dengan cara mengucuci muka mayat dengan air dan mengusapnya tiga kali. Kemudian tangannya dari batas siku ke bawah dikucuri dengan air dan diusapnya masing·masing tiga kali dimulai dari tangan kanan, kemudian tangan kiri. Selanjutnya membasahi ubun·ubunnya, tetinga, mata kaki ke bawah dan diusap masing·masing tiga kali, dimulai dari kaki kanan kemudian kaki kiri.

Demikianlah mewudlukan mayat sarna persis caranya dengan orang yang mengambil air wudlu sebelum menunaikan ibadah sembahyang. Selesai mayal itu diwudlukan, kemudian mayat dihanduki untuk mengeringkan air yang masih menempel di badan mayat. Selelah itu mayat ditutup dengan kain kebal ' kain panjang wanita' dan selanjutnya diangkat dibawa ke dalam rumah, dibaringkan di tengah rumah dengan posisi arah kepala ke sebelah timur, kaki sebelah barat.

2. Upacara Mungkus atau Ngaboehan 'upaeara mengkafani mayat'

Upacara mungkus atau ngaboehan 'upacara mengkafani mayat' dilakukan oleh penghulu amil ' pelugas pamong desa yang bertugas mengurus masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan' atau oleh seseorang yang biasa melakukan pekerjaan tersebut, bila orang yang meninggal itu seorang laki·laki, sedangkan bila yang meninggal itu seorang perempuan, maka upacara ngaboehan itu dilakukan oleh seorang perempuan.

Sebelum dibungkus dengan boeh (kain kafan' yang berwama putih, mayat lerlebih dulu dikapasi pada bagian muka, bagian pergelangan tangan , bagian punggung kaki dan bagian kemaluan 'aurat'. Mayat perempuan dikapasi pula bagian buah dadanya. Setelah dikapasi, kemudian mayat dibungkus dengan kain kafan yang berwama putih yang panjangnya kira·kira 10 alau 12 meter untuk orang dewasa, 8 meter untuk anak-anak. Pada ujung kepala dan ujung kaki mayat, kain itu diikat dengan tali yang dibuat dari kain yang sarna. Demikian juga tali ini diikatkan pada bagian lutut mayal. Mayat dengan kain kafan tersebut disebut pocong.

Setelah selesai mengkafani, kemudian pasaran yang sudah disiapkan diletakkan di samping mayat, kemudian mayat tersebut dibungkus lagi dengan sehelai tikar dan diletakkan/ dibaringkan di atas pasaran 'usungan maya. Selanjutnya pasaran 'usungan mayat itu ditutup dengan tutup pasar·an. Kemudian tutup pasaran ilu ditutupi dengan kain panjang beberapa helai . Pada bagian kepala tutup pasaran itu ditandai dengan tutup kain yang dilipat supaya orang lidak keliru waktu mengusung mayat ke pekuburan.

Di atas kain penutup pasaran itu digantungi mangle 'untaian bunga" untaian daun pandan, dan diberi minyak wangi . Kesemuanya dimaksudkan agar usungan mayat itu tercium harum.

3. Upacara Nyolatkeun 'menyembahyangkan mayat'

Upacara menyembahyangkan mayat ada yang dilakukan di rumah keluarga orang yang meninggal, ada juga yang dilakukan di mesjid. Kalau upacara menyembahyangkan mayat itu dilakukan di mesjid, mayat yang sudah selesai dimasukkan ke dalam usungan mayat, kemudian digotong oleh empat orang laki·laki dibawa ke dalam mesjid. Di dalam mesjid mayat itu diletakkan di muka orang-orang yang akan menyembahyangkan, membujur arah utara (kepala mayat) dan selatan (kaki mayat). Demikian juga apabila upacara menyembahyangkan mayat itu di dalam rumah. Mayat diletakkan di muka orang-orang yang akan menyembahyangkan dengan posisi mayat membujur arah utara selatan. Kepala di sebelah utara, kaki di sebelah selatan.

Orang-orang yang akan menyembahyangkan mayat mengambil wudlu, kemudian mereka berjajar di belakang penghulu amil yang bertindak sebagai imam. Sembahyang yang dilakukan pada wakttu upacara menyembahyangkan mayat tidak ruku dan sujud, melainkan dengan berdiri sampai sembahyang tersebut selesai. Menurut anggapan masyarakat Banten lebih banyak orang yang ikut menyembahyangkan 'mayat lebih baik, karena lebih banyak do'a untuk orang yang meninggai. Upacara menyembahyangkan mayat sifatnya fardu kifayah artinya wajib bagi orang yang hidup untuk mengurus mayat bersama-sama. Apabila tidak dilakukan orang-orang yang mempunyai kewajiban itu akan mendapat siksa kelak.

Selesai upacara menyembahyangkan mayat, kemudian mayat digotong oleh empat orang laki-Iaki unluk dibawa ke kuburan . Pada waktu mayat digotong ke kuburan, kepala mayat harus terlelak di sebelah depan, kakinya di sebelah belakang. Pada waktu usungan mayat itu mau diberangkatkan ke kuburan , anggota keluarga, yaitu anak-anak dan istri, atau suami orang yang meninggal harus ngolong artinya berjalan di bawah kolong usungan tersebut. Maksud upacara ngolong tampaknya berbeda-beda, kemungkinan hanya mengikuli saja. Di daerah Banten dimaksudkan agar orang-orang yang dtinggal mati tidak terus bersedih, agar paler 'tidak selalu ingat' dan sadar bahwa dia pun kelak akan mengalami seperti itu. Dan apabila istri yang ditinggal mati itu sedang mengandung, dengan upacara ngolong itu agar supaya bayi dalam kandungan tidak menjadi anak yang lanus 'sering sakit'. Pada saat usungan mayat sampai di halaman rumah, kemudian dipayungi dengan payung panjang tepat pada bagjan kepala mayat. Setelah upacara ngolong selesai, maka usungan mayat itu dibawa ke kuburan, dengan didahului oleh orang-orang yang membawa air dalam kendi, bunga rampai yang ditempatkan pada sebuah bokor 'wadah yang terbuat dari kuningan' atau ayakan 'alat rumah tangga yang terbuat dari anyaman bambu kecil–kecil biasa dipakai untuk menyaring santan kelapa, atau tempat sayur-sayuraan’. Orang yang menggotong usungan mayat biasanya berganlian, terutama menjadi kewajiban keluarga atau kerabat dari orang yang meninggai. Di belakang usungan mayat beriringan orang-orang yang mengantar ke kuburan. Di antara mereka terdapat juga orang-orang yang sambil membawa papan atau potongan bambu untuk keperluan di kuburan. Orang yang mengantar ke kuburan di beberapa daerah Banten ada yang sambil berzikir keras-keras ada juga yang tidak melakukan itu.

4. Upacara Ngubur ‘Upacara Menguburkan’

Upacara penguburan disebut juga upacara ngurebkeun biasanya dilakukan oleh penghulu amil yang dibantu dua orang lainnya yang membantu menerima mayat dari atas dan membaringkan mayat di lubang lahat serta membantu memasang tataban 'penutup lubang lahat', Baik orang yang meninggal itu laki·laki maupun perempuan, upacara penguburan dilakukan oleh penghulu amil.

Pada waktu usungan mayat itu sampai di kuburan, maka usungan tersebut diletakkan di samping sebelah barat lubang kubur dengan posisi membujur arah utara ke selatan, Kain penutup pasaran 'usungan mayat' dibuka dan dilipat, payung juga dilipat (ditutupkan), tutup pasaran dibuka, tikar pembungkus mayat dibuka dan mayat tersebut diangkat oleh tiga orang, seorang dibagian kepala, seorang dibagian pinggang dan seorang lagi dibagian kaki. Setelah mayat diangkat, pasaran ditarik digolosorkeun (digeser) sampai tidak menghalangi orang yang mengangkat mayat.

Kemudian mayat disodorkan kepada tiga orang yang berada di dalam lubang kubur, seorang diantaranya ialah penghulu amil yang akan bertindak melaksanakan upacara penguburan, dan dua orang yang lainnya hanya membantu menerima mayat waktu disodorkan dari atas, Tali pembungkus mayat kemudian dibuka dan mayat diletakkan miring di dalam lubang lahat dengan posisi mayat membujur arah utara selatan, kepala di sebelah utara kaki di sebelah selatan, sehingga muka mayat menghadap kesebelah barat (kiblat). Untuk mengganjali mayat di dalam lubang lahat agar tetap dalam keadaan miring, dibuatlah pengganjal dari tanah galian yang dibentuk bulatan-bulatan menyerupai bola kecil yang disebut gegelu ‘pengganjal mayat di dalam kubur’ terbuat dari tanah yang dibentuk bulatan-bulatan kecil sebesar kepal, Gegelu ini banyaknya tujuh (7) buah dipasang pada bagian punduk 'tengkuk' sebuah dibagian walikat 'belikat' dua buah, bobokong 'tulang pinggul' dua buah, cecekolan 'lutut sebelah belakang sebuah dan pada bagian keuneung 'tumit' sebuah.

Setelah tali kafan dibuka dan dikendorkan, penghulu amil kemudian membacakan doa yang dibisikan ke telinga kiri mayat, selesai membaca do'a kemudian penghulu amil mengambil papan kayu atau bambu yang telah tersedia dan mesangnya sebagai penutup lubang lahat. Selesai menutup lubang lahat, kemudian penghulu amil atau seorang diantara pengantar berazan dan selanjutnya penghulu amil naik ke atas digantikan oleh beberapa orang, biasanya yang membantu pada awal penguburan turun kembali ke dalarn kubur. Tikar bekas bungkus mayat dibeberkan, masing·masing ujung dipegang oleh seorang yang berdiri ditepi lubang kubur. Tikar itu merentang arah utara selatan tepat di belakang atau bagian punggung orang-orang yang betada di dalam lubang kubur. Selanjutnya kubur itu ditimbuni tanah bekas galian dan setiap tanah yang masuk ke dalam lubang kubur diinjak-injak oleh mereka yang berada di dalam lubang kubur. Maksud dari tikar direntangkan tidak lain agar tanah yang ditimbunkan dari atas tidak mengotori pakaian orang-orang yang bekerja menginjak-injak tanah galian tersebut. Maksudnya adalah agar timbunan itu neundeut 'pejal atau padat'. Sebelum penuh dengan timbunan tanah kuburan itu pada ujung sebelah utara tepat pada letak kepala mayat dan pada ujung sebelah selatan tepat pada kaki mayat di samping tetengger atau paesan, terbuat dari papan, bambu, atau batu sebagai ciri atau tanda untuk menunjukkan bahwa kuburan itu merupakan kuburan baru. Biasanya pada paesan 'ciri atau tanda' itu dituliskan nama dan waktu wafatnya seseorang yang biasanya ditulis dengan menggunakan huruf Arab. Akan tetapi kebanyakan lelengger atau paesan itu cukup dengan meletakkan batu di kedua ujung kuburan. Selain itu di belakang atau di depan tetengger sebelah utara biasanya ditandai atau ditanami pohon hanjuang. Kebiasaan ini menurut penjelasan beberapa orang penghulu amil merupakan sunah nabi, karena pada suatu waktu Nabi Muhammad saw menancapkan pohon kurmadi atas kuburan setelah selesai upacara penguburan. Jadi pohon hanjuang ditanam di atas kuburan maksudnya sebagai tanda bahwa di situ ada kuburan karena pesan dari batu atau kayu kemungkinan rusak atau hilang, sedangkan pohon hanjuang akan tumbuh bertambah besar.

Setelah kubur ditimbuni, di atasnya ditaburi bunga-bungaan yang disebut rampe ‘bunga rampai’ dan dikucuri air yang sudah disiapkan dari rumah, kemudian penghulu amil membacakan do'a talkin dengan maksud menutup upacara sakral penguburan dan memberikan peringatan kepada orang yang masih hidup agar lebih meningkatkan amal baik dalam mengisi sisa hidup. Karena kelak dalam waktu yang tak dapat dipastikan akan mengalami seperti orang yang baru saja mereka kuburkan. Di samping itu talkin ini dimaksudkan juga untuk mendo'akan arwah orang yang meninggal yang kini telah berada di dalam kubur agar diampuni Tuhan semua dosa yang telah diperbuatnya selam ia hidup.

Selanjutnya setelah selesai pembacaan talkin tersebut, biasanya ada orang yang mewakili keluarga yang ditinggalkan. Dia berbicara dengan maksud menyampaikan rasa terima kasih kepada semua orang yang telah turut membantu melaksanakan upacara dan mengurus penguburan serla memintakan maaf bagi orang yang meninggal, memohon agar orang yang hadir juga memaafkan segala kesalahan yang mungkin diperbuat almarhum, memohon keridlaan untuk mendoakan arwah almarhum, serta keridloan untuk membebaskan almarhum atas utang piutangnya yang mungkin belum sempat dibayar semasa hidupnya. Utang almarhum kini sudah menjadi utang keluarganya apabila tidak bisa dibebaskan. Selain itu dikemukakan pula agar hadirin ikut mendoakan almarhum agar dibebaskan atau diringankan dari siksa kubur dan diterima oleh Tuhan Yang Mahaesa sesuai dengan amal perbuatannya selama masih hidup.

Setelah itu orang-orang pulang dari kuburan menuju ke rumah keluarga orang yang meninggal untuk melaksanakan upacara nyusur tanah ‘upacara menyusur tanah’ . Pada waktu pulang ada orang yang menggotong pasaran 'usungan mayat ' untuk disimpan kembali ke tempatnya di dekat mesjid, ada yang membawa payung yang juga disimpan bersama pasaran 'usungan mayat’ .
Kain bekas penutup usungan mayat dibawa pulang, sedangkan tikar bekas pembungkus dan alas mayat biasanya diberikan kepada penghulu amil atau kepada penggali kubur. Di beberapa desa masih ada yang mempergunakan usungan mayat yang hanya dipakai sekali saja, yang terbuat dari bambu, mendadak dibuat apabila ada orang .yang meninggal. Usungan mayat demikian disebut pasaran dan setelah selesai penguburan, pasaran itu ditinggalkan di kuburan atau dibuang. Usungan mayat seperti tersebut di atas yaitu usungan mayat yang bersifat permanen disebut dongdang atau kurung dedes ‘kurungan musang’.

Usungan mayat yang dibuat secara mendadak apabila ada orang yang meninggal, bekasnya yaitu bambunya menurut kepercayaan orang baik sekali apabila dipergunakan luntuk membuat jeujeur "joran" untuk mengaii, apalagi bila pasaran itu bekas dipergunakan mengusung mayat orang yang mati pada malam Jum'at.

Pada waktu pulang dari kuburan, biasanya dibagikan nasi bungkus atau uang receh kepada anak·anak yang elisebut salawat (arti yang sebenamya dari salawat adalah memuji dan menghormati serta mendoakan kepada Nabi Muhammad saw).
5. Upacar Nyusur Tanah 'upacara menyusur tanah'

Setelah selesai upacara penguburan, di rumah keluarga orang yang meninggal diadakan upacara nyusur tanah ‘upacara menyusur tanah’ . Penghulu amil dan orang-orang yang mengantar ke kuburan yang mau mengikuti upacara tersebut duduk berjejer di ruangan tengah rumah. Sedangkan di tengah-tengah telah tersedia hidangan nasi dengan lauk pauknya atau nasi tumpeng. Setelah tidak ada yang ditunggu lagi, penghulu amil mengucapkan ijab Kabul "kata-kata pembukaan". Kata-kala pembukaan dalam upacara itu, yang mengemukakan atas nama keluarga yang ditinggal, ucapan terima kasih kepada semua hadirin yang telah ikut membantu melaksanakan upacara penguburan , serta nasihat kepada keluarga tersebut agar telap tabah dan dikuatkan imannya menghadapi cobaan tersebut.

Selesai pembukaan, kemudian penghulu amil membakar kemenyan dan dilanjutkan dengan membacakan do'a, maka selesai pulalah upacara itu, kemudian orang yang haelir menyantap makanan yang telah disediakan.

Maksud dari nyusur tanah ‘upacara menyusur tanah’ sebenamya ungkapan rasa terima tkasih keluarga yang ditinggal mati kepada semua orang yang telah turut membantu upacara penguburan, etang·etang buruh cape 'seakan-akan penawar lelah setelah pulang, balik dari kuburan'. Ngukus 'pembakaran kemenyan, sebelum membacakan doa bagi beberapa daerah di wilayah Banten tidak dilakukan, terulama daerah perkotaan. Di daerah-daerah pedesaan kebiasaan ngukus "pembakaran kemenyan" masih sering dilakukan.

Setelah selesai makan, maka selesai pulalah upacara nyusur tanah "upacara menyusur  tanah", dan orang-orang yang hadir kini pulang ke rumahnya masing·masing, atau mereka kembali ke tempat pekerjaan semula.

Menurut kepercayaan orang, makanan yang dihidangkan dalam upacara nyusur tanah "upacara menyusur tanah" itu rasanya kurang enak, hambar "tawar" , karena sarinya telah dimakan oleh arwah orang yang meninggal dan menurut kepercayaan pula bahwa selama tujuh hari arwah tersebut masih berada di lingkungan rumah si mati, masih ikut makan minum. Oleh karena, itu perlu diselenggarakan upacara tahlilan sampai ketujuh harinya.

Karena anggapan yang demikian banyak diantaranya yang menjadi tabu untuk makan makanan pada upacara menyusur tanah dan tahlilan. Walaupun ia ikut hadir pada waktu diadakan upacara, ia tidak mau makan, paling·paling hanya minum saja sebagai penghormatan kepada keluarga yang menghidangkan makanan tersebut.
Walaupun demikian upacara tahlilan seringkali dikatakan upacara poeanana "hari pertama" tiluna "hari ke tiga", tujuhna "hari ke tujuh" bukan berarti hari kedua, keempat dan keenam itu tidak diadakan upacara tahlilan, seperti halnya pada masyarakat Baduy.

6. Upacara Poeanana "Upacara Hari Pertarna Meninggal"

Setelah upacara penguburan dan upacara nyusur tanah "upacara menyusur tanah", pada malam harinya biasanya setelah waktu sembahyang Magrib, para tetangga yang berdekatan rumah dengan keluarga yang baru saja ditinggal mati berkumpul . Tidak usah diundang lebih dahulu pada tetangga itu dengan sukarela datang untuk melaksanakan upacara tahlilan. Upacara ini dipimpin oleh penghulu amil atau oleh seorang yang biasa memimpin upacara demikian diantara para tetangga.

Upacara tahlilan ini merupakan upacara pembacaan doa dan zikir sebagai permohonan kepada Tuhan Yang Mahaesa, agar arwah orang yang baru saja meninggal dunia diampuni segala dosanya, diterima dan ditempatkan di tempat yang layak sesuai dengan amal ibadahnya selama ia masih hldup, serta mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan tetap tabah dan tebal iman menghadapi cobaan. Demikian juga orang-orang yang hadir akan senantiasa diberkati rahmal Tuhan, diberikan keselamatan lahir balin.

Pada waktunya upacara dimulai, penghulu amil atau pimpinan upacara mengucapkan ijab kabul "pembukaan dengan mengemukakan maksud upacara" dan mengucapkan terima kasih atas nama keluarga yang ditinggal mati atas keridlaan para hadirin yang dengan suka rela ikut dalam upacara tersebut. Biasanya sebelum ijab kabul ilu diucapkan, pimpinan upacara terlebih dahulu membakar kemenyan.

Selelah selesai ijab kabul, pimpinan upacara kemudian membaca surat Al·Fatihah, dilanjulkan dengan membaca surat-surat yang lain yang selelah sekali diucapkan oleh pimpinan upacara diikuti bersama-sama oleh hadirin. Setiap surat dibacakan bersama sampai 33 kali. Demikian selerusnya hingga semua sural yang perlu diucapkan bersama-sama dan diakhiri oleh surat Al·Fatihah lagi. Pada waktu mengucapkan surat Al·Fatihah terakhir yang dilakukan oleh pimpinan upacara, hadirin yang lain tidak mengikutinya bersama-sama, dan pada akhir surat itu hadirin mengucapkan amin, hingga selesai doa-doa yang lain diucapkan pimpinan upacara.

Setelah selesai pembacaan doa, dihidangkan makanan yang berupa nasi dengan lauk pauknya atau nasi lumpeng. Hadirin kemudian makan bersama dan setelah makan disediakan pula kue-kue atau makanan ringan yang lainnya.

Bagi orang-orang yang marnpu orang-orang yang mengikuti upacara itu pada waktu pulang dibekali juga makanan atau nasi tumpeng unluk dibawa pulang ke rumah masing-masing dan membagikan makanin serupa kepada tetangga-tetangga yang tidak ikut hadir dalam upacara tersebut.

7. Upacara Tujuhna atau Tujuh harian "Upacara hari kelujuh"

Pelaksanaan upacara tujuh harian tidak berbeda dengan pelaksanaan pada upacara kesatu. Seperti halnya pada upacara poeanana "hari kesatu", maka upacara.yang dilaksanakan pada upacara tujuhna "hari ketujuh" ini biasanya disertai dengan menyembelih temak, misalnya ayam.

Pada upacara tujuhna "hari ketujuh" seperti halnya pada upacara poeanana "hari pertama" para tetangga datang berkumpul ke rumah keluarga yang ditinggal mati untuk mengadakan tahlilan yaitu membacakan doa bersam-sama.

Selesai pembacaan doa bersarna, hadirin disuguhi makan dan kadang-kadang mereka dibekali hidangan atau makanan sewaktu mereka pulang. Tetangga yang tidak ikut hadir pun dikirim "diantari idangan atau berkat "hidangan , makanan" . Karena pada upacara tujuhna atau tujuh harian merupakan upacara yangagak besar, biasanya tetangga-tetangga ikut membantu menyumbangkan beras atau uang atau bahan keperluan yang lainnya.

8. Upacara Matang Puluh Keempat puluh hari

Kecuali di daerah Baduy upacara kernatian seseorang hanya dilaksanakan sampai upacara tujuhna "hari ketujuh". Setelah itu tidak ada lagi upacara. Tetapi pada masyarakat Banten di luar Baduy upacara kematian itu masih diperingati pada hari keempat puluh yang disebut upacara matangpuluh "keempat puluh hari".

Pelaksanaan upacara matangpuluh ''keempat puluh hari" itu sama saja dengan pelaksanaan pada upacara tujuhna ”ketujuh hari".

9. Upacara Natus atau Nyeratus “Upacara Keseratus Hari”

Walaupun dalarn pelaksanaannya tidak berbeda dengan upacara-upacarasebelumnya, namun bagi orang yang mampu upacara ini merupakan upacara paling besar dibandingkan dengan upacara-upacara kematian sebelumnya. Biasanya dalarn upacara itu disembelih ternak seperti karnbing, malahan kerbau atau sapi.


1.1.9 Keharusan

Menjadi keharusan bagi orang yang masih hidup untuk mengurus mayat dan menguburkannya. Keharusan itu merupakan fardu kifayah yang berarti kewajiban umum untuk mengurus secara bersarna-sarna karena hukumnya wajib, maka bila tidak dilaksanakan berdosa.

Keharusan ini meliputi keharusan memandikan mayat, mengkainkafani, menyembayangkan dan menguburkan. Ini berarti pula suatu keharusan bagi orang yang meninggal untuk dlmandikan, diwudlukan, dikainkafani, disembahyangkan sebelum dikuburkan dan selanjutnya keharusan untuk dikuburkan.

Sedangkan pembacaan talkin setelah selesai penguburan tidak merupakan suatu keharusan dan hukumnya sunat, artinya bila dilakukan akan mendapat pahala, dilakukan tidak berdosa. Kain kafan harus berwama putih dan sebelum dikafani mayat itu harus dikapasi terutama bagian yang disebut aurat.

Kuburan harus cukup dalamnya, kira·kira 1,5 meter bagi orang dewasa dan 1 meter bagi anak-anak. Keharusan ini menjaga jangan sampai mayat dikoreh "dibongkar" binatang buas. Panjangnya kuburan harus longgar bila mayat dimasukkan. Pemasangan tataban "penutup lubang lahat" merupakan keharusan, walaupun boleh menggunakan papan atau batangan bambu. Kuburan memakai lubang lahat pun merupakan keharusan. Lubang lahat ini boleh dibuat di sisi sebelah baraat kubur atau di tengah·tengah, tergantung dari keadaan tanahnya. Pada tanah yang mudah longsor. Lubang lahat itu dibuat di tengah.

Melakukan azan setelah mayat ditutup dengan tataban "penutup lubang lahat" ada yang mengatakan sebagai suatu keharusan, tetapi ada lagi yang menganggap tidak boleh.

Menanami kuburan dengan pohon·pohon seperti hanjuang, kamboja dan sebagainya merupakan suatu keharusan, karena dapat dipergunakan sebagai tanda, terutama bag; orang yang bermaksud untuk berziarah. Demikian juga kuburan harus ditanami pohon·pohon besar yang rindang bahkan di daerah Baduy kuburan itu merupakan hutan. Suatu keharusan pula ialah bahwa bila ada orang yang meninggal harus secepatnya dikuburkan, mayat tidak boleh disimpan lama-1ama di rumah.

Bagi beberapa daerah di Banten tahlilan itu merupakan suatu keharusan, sedangkan bagi beberapa daerah lainnya tahlilan tersebut bukan merupakan. keharusan, malahan dipandang sebagai kebiasaan yang ketentuan agama Islam, kecuali upacara nyusur tanah "upacara menyusur tanah” merupakan suatu keharusan untuk mengiringi kepergian orang yang mati.

1.1.10 Pantangan
Berziarah ke kuburan tidak merupakan suatu pantangan. Yang merupakan pantangan adalah meminta·minta ke kuburan, artinya memohon sesuatu (seperti misa1nya kekayaan, keselamatan) ke kuburan atau kepada kuburan kuburan yang dianggap keramat.

Pantang sebenamya bagi perempuan ikut mengantar mayat ke kuburan, akan tetapi karena kebiasaan, pantangan tersebut seperti tidak berlaku lagi. Orang yang menganggap pantang bagi perempuan mengantar ke kuburan dengan alasan tidak ada pekerjaan yang dapat dikerjakan perempuan sehubungan dengan upacara penguburan, paling juga menangis yang dapat merepotkan orang lain.


2.1  Kesimpulan


Upacara yang diadakan dalam upacara di Banten dapat dibagi kedalam dua bagian, yaitu: (1) Upacara yang berhubungan dengan pengurusan mayat sampai mayat dikuburkan, (2) Upacara yang dilakukan setelah penguburan.

Upacara yang dilakukan sehubungan dengan pengurusan mayat terdiri dari:
1. Upacara ngamandian ‘upacara memandikan mayat’
2. Upacara mungkus mayat ‘upacara mengkafani mayat’
3. Upacar nyolatkeun mayit ‘upacar menyembahyangkan mayat’
4. Upacara ngurebkeun atau nguburkuen ‘upacara menguburkan mayat’
Sedangkan upacara yang dilakukan setelah upacara penguburan, yaitu:
1. Upacara nyusur tanah ‘upacara menyusur tanah’
2. Upacara tiluna ‘upacara tiga harian’
3. Upacara tujuhna ‘upacara tujuh harian’
4. Upacara matangpuluh ‘upacara empat puluh harian’
5. Upacra natus ‘upacara seratus hari’
6. Upacara mendak ‘setelah setahun’
7. Dan newu ‘upacara keseribu hari’

Sejarah singkat

Masa Hindia Belanda

Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa pemuda Indonesia mempunyai "saham" besar dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia serta ada dan berkembangnya pendidikan kepanduan nasional Indonesia. Dalam perkembangan pendidikan kepanduan itu tampak adanya dorongan dan semangat untuk bersatu, namun terdapat gejala adanya berorganisasi yang Bhinneka.
Organisasi kepanduan di Indonesia dimulai oleh adanya cabang "Nederlandsche Padvinders Organisatie" (NPO) pada tahun 1912, yang pada saat pecahnya Perang Dunia I memiliki kwartir besar sendiri serta kemudian berganti nama menjadi "Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging" (NIPV) pada tahun 1916.
Organisasi Kepanduan yang diprakarsai oleh bangsa Indonesia adalah Javaansche Padvinders Organisatie; berdiri atas prakarsa S.P. Mangkunegara VII pada tahun 1916.
Kenyataan bahwa kepanduan itu senapas dengan pergerakan nasional, seperti tersebut di atas dapat diperhatikan pada adanya "Padvinder Muhammadiyah" yang pada 1920 berganti nama menjadi "Hizbul Wathan" (HW); "Nationale Padvinderij" yang didirikan oleh Budi Utomo; Syarikat Islam mendirikan "Syarikat Islam Afdeling Padvinderij" yang kemudian diganti menjadi "Syarikat Islam Afdeling Pandu" dan lebih dikenal dengan SIAP, Nationale Islamietische Padvinderij (NATIPIJ) didirikan oleh Jong Islamieten Bond (JIB) dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO) didirikan oleh Pemuda Indonesia.
Hasrat bersatu bagi organisasi kepanduan Indonesia waktu itu tampak mulai dengan terbentuknya PAPI yaitu "Persaudaraan Antara Pandu Indonesia" merupakan federasi dari Pandu Kebangsaan, INPO, SIAP, NATIPIJ dan PPS pada tanggal 23 Mei 1928.
Federasi ini tidak dapat bertahan lama, karena niat adanya fusi, akibatnya pada 1930 berdirilah Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) yang dirintis oleh tokoh dari Jong Java Padvinders/Pandu Kebangsaan (JJP/PK), INPO dan PPS (JJP-Jong Java Padvinderij); PK-Pandu Kebangsaan).
PAPI kemudian berkembang menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI) pada bulan April 1938.
Antara tahun 1928-1935 bermuncullah gerakan kepanduan Indonesia baik yang bernapas utama kebangsaan maupun bernapas agama. kepanduan yang bernapas kebangsaan dapat dicatat Pandu Indonesia (PI), Padvinders Organisatie Pasundan (POP), Pandu Kesultanan (PK), Sinar Pandu Kita (SPK) dan Kepanduan Rakyat Indonesia (KRI). Sedangkan yang bernapas agama Pandu Ansor, Al Wathoni, Hizbul Wathan, Kepanduan Islam Indonesia (KII), Islamitische Padvinders Organisatie (IPO), Tri Darma (Kristen), Kepanduan Azas Katolik Indonesia (KAKI), Kepanduan Masehi Indonesia (KMI).
Sebagai upaya untuk menggalang kesatuan dan persatuan, Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia BPPKI merencanakan "All Indonesian Jamboree". Rencana ini mengalami beberapa perubahan baik dalam waktu pelaksanaan maupun nama kegiatan, yang kemudian disepakati diganti dengan "Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem" disingkat PERKINO dan dilaksanakan pada tanggal 19-23 Juli 1941 di Yogyakarta.

Masa Bala Tentara Dai Nippon

"Dai Nippon" ! Itulah nama yang dipakai untuk menyebut Jepang pada waktu itu. Pada masa Perang Dunia II, bala tentara Jepang mengadakan penyerangan dan Belanda meninggalkan Indonesia. Partai dan organisasi rakyat Indonesia, termasuk gerakan kepanduan, dilarang berdiri. Namun upaya menyelenggarakan PERKINO II tetap dilakukan. Bukan hanya itu, semangat kepanduan tetap menyala di dada para anggotanya.Karena Pramuka merupakan suatu organisai yang menjungjung tinggi nilai persatuan.Oleh karena itulah bangsa jepang tidak mengijinkan Pramuka tetap lahir di bumi pertiwi.
Masa Republik Indonesia
Sebulan sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, beberapa tokoh kepanduan berkumpul di Yogyakarta dan bersepakat untuk membentuk Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia sebagai suatu panitia kerja, menunjukkan pembentukan satu wadah organisasi kepanduan untuk seluruh bangsa Indonesia dan segera mengadakan Konggres Kesatuan Kepanduan Indonesia.
Kongres yang dimaksud, dilaksanakan pada tanggal 27-29 Desember 1945 di Surakarta dengan hasil terbentuknya Pandu Rakyat Indonesia. Perkumpulan ini didukung oleh segenap pimpinan dan tokoh serta dikuatkan dengan "Janji Ikatan Sakti", lalu pemerintah RI mengakui sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditetapkan dengan keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No.93/Bag. A, tertanggal 1 Februari 1947.
Tahun-tahun sulit dihadapi oleh Pandu Rakyat Indonesia karena serbuan Belanda. Bahkan pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1948 waktu diadakan api unggun di halaman gedung Pegangsaan Timur 56, Jakarta, senjata Belanda mengancam dan memaksa Soeprapto menghadap Tuhan, gugur sebagai Pandu, sebagai patriot yang membuktikan cintanya pada negara, tanah air dan bangsanya. Di daerah yang diduduki Belanda, Pandu Rakyat dilarang berdiri,. Keadaan ini mendorong berdirinya perkumpulan lain seperti Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), Kepanduan Indonesia Muda (KIM).
Masa perjuangan bersenjata untuk mempertahankan negeri tercinta merupakan pengabdian juga bagi para anggota pergerakan kepanduan di Indonesia, kemudian berakhirlah periode perjuangan bersenjata untuk menegakkan dan mempertahakan kemerdekaan itu, pada waktu inilah Pandu Rakyat Indonesia mengadakan Kongres II di Yogyakarta pada tanggal 20-22 Januari 1950.
Kongres ini antara lain memutuskan untuk menerima konsepsi baru, yaitu memberi kesempatan kepada golongan khusus untuk menghidupakan kembali bekas organisasinya masing-masing dan terbukalah suatu kesempatan bahwa Pandu Rakyat Indonesia bukan lagi satu-satunya organisasi kepanduan di Indonesia dengan keputusan Menteri PP dan K nomor 2344/Kab. tertanggal 6 September 1951 dicabutlah pengakuan pemerintah bahwa Pandu Rakyat Indonesia merupakan satu-satunya wadah kepanduan di Indonesia, jadi keputusan nomor 93/Bag. A tertanggal 1 Februari 1947 itu berakhir sudah.
Mungkin agak aneh juga kalau direnungi, sebab sepuluh hari sesudah keputusan Menteri No. 2334/Kab. itu keluar, maka wakil-wakil organi-sasi kepanduan menga-dakan konfersensi di Ja-karta. Pada saat inilah tepatnya tanggal 16 September 1951 diputuskan berdirinya Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO) sebagai suatu federasi.
Pada 1953 Ipindo berhasil menjadi anggota kepanduan sedunia
Ipindo merupakan federasi bagi organisasi kepanduan putera, sedangkan bagi organisasi puteri terdapat dua federasi yaitu PKPI (Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia) dan POPPINDO (Persatuan Organisasi Pandu Puteri Indonesia). Kedua federasi ini pernah bersama-sama menyambut singgahnya Lady Baden-Powell ke Indonesia, dalam perjalanan ke Australia.
Dalam peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-10 Ipindo menyelenggarakan Jambore Nasional, bertempat di Ragunan, Pasar Minggu pada tanggal 10-20 Agustus 1955, Jakarta.
Ipindo sebagai wadah pelaksana kegiatan kepanduan merasa perlu menyelenggarakan seminar agar dapat gambaran upaya untuk menjamin kemurnian dan kelestarian hidup kepanduan. Seminar ini diadakan di Tugu, Bogor pada bulan Januari 1957.
Seminar Tugu ini meng-hasilkan suatu rumusan yang diharapkan dapat dijadikan acuan bagi setiap gerakan kepanduan di Indonesia. Dengan demikian diharapkan ke-pramukaan yang ada dapat dipersatukan. Setahun kemudian pada bulan Novem-ber 1958, Pemerintah RI, dalam hal ini Departemen PP dan K mengadakan seminar di Ciloto, Bogor, Jawa Barat, dengan topik "Penasionalan Kepanduan".
Kalau Jambore untuk putera dilaksanakan di Ragunan Pasar Minggu-Jakarta, maka PKPI menyelenggarakan perkemahan besar untuk puteri yang disebut Desa Semanggi bertempat di Ciputat. Desa Semanggi itu terlaksana pada tahun 1959. Pada tahun ini juga Ipindo mengirimkan kontingennya ke Jambore Dunia di MT. Makiling Filipina.
Nah, masa-masa kemudian adalah masa menjelang lahirnya Gerakan Pramuka.

Kelahiran Gerakan Pramuka
Sejarah Pramuka Indonesia
Gerakan Pramuka lahir pada tahun 1961, jadi kalau akan menyimak latar belakang lahirnya Gerakan Pramuka, orang perlu mengkaji keadaan, kejadian dan peristiwa pada sekitar tahun 1960.
Dari ungkapan yang telah dipaparkan di depan kita lihat bahwa jumlah perkumpulan kepanduan di Indonesia waktu itu sangat banyak. Jumlah itu tidak sepandan dengan jumlah seluruh anggota perkumpulan itu.
Peraturan yang timbul pada masa perintisan ini adalah Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960, tanggal 3 Desember 1960 tentang rencana pembangunan Nasional Semesta Berencana. Dalam ketetapan ini dapat ditemukan Pasal 330. C. yang menyatakan bahwa dasar pendidikan di bidang kepanduan adalah Pancasila. Seterusnya penertiban tentang kepanduan (Pasal 741) dan pendidikan kepanduan supaya diintensifkan dan menyetujui rencana Pemerintah untuk mendirikan Pramuka (Pasal 349 Ayat 30). Kemudian kepanduan supaya dibebaskan dari sisa-sisa Lord Baden Powell (Lampiran C Ayat 8).
Ketetapan itu memberi kewajiban agar Pemerintah melaksanakannya. Karena itulah Pesiden/Mandataris MPRS pada 9 Maret 1961 mengumpulkan tokoh-tokoh dan pemimpin gerakan kepanduan Indonesia, bertempat di Istana Negara. Hari Kamis malam itulah Presiden mengungkapkan bahwa kepanduan yang ada harus diperbaharui, metode dan aktivitas pendidikan harus diganti, seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur menjadi satu yang disebut Pramuka. Presiden juga menunjuk panitia yang terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Menteri P dan K Prof. Prijono, Menteri Pertanian Dr.A. Azis Saleh dan Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa, Achmadi. Panitia ini tentulah perlu sesuatu pengesahan. Dan kemudian terbitlah Keputusan Presiden RI No.112 Tahun 1961 tanggal 5 April 1961, tentang Panitia Pembantu Pelaksana Pembentukan Gerakan Pramuka dengan susunan keanggotaan seperti yang disebut oleh Presiden pada tanggal 9 Maret 1961.
Ada perbedaan sebutan atau tugas panitia antara pidato Presiden dengan Keputusan Presiden itu.
Masih dalam bulan April itu juga, keluarlah Keputusan Presiden RI Nomor 121 Tahun 1961 tanggal 11 April 1961 tentang Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Anggota Panitia ini terdiri atas Sri Sultan (Hamengku Buwono IX), Prof. Prijono, Dr. A. Azis Saleh, Achmadi dan Muljadi Djojo Martono (Menteri Sosial).

Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, sebagai Lampiran Keputusan Presiden R.I Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan Pramuka.

Kelahiran Gerakan Pramuka
Gerakan Pramuka ditandai dengan serangkaian peristiwa yang saling berkaitan yaitu :
1.Pidato Presiden/Mandataris MPRS dihadapan para tokoh dan pimpinan yang mewakili organisasi kepanduan yang terdapat di Indonesia pada tanggal 9 Maret 1961 di Istana Negara. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI TUNAS GERAKAN PRAMUKA
2.Diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961, tentang Gerakan Pramuka yang menetapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditugaskan menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagi anak-anak dan pemuda Indonesia, serta mengesahkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka yang dijadikan pedoman, petunjuk dan pegangan bagi para pengelola Gerakan Pramuka dalam menjalankan tugasnya. Tanggal 20 Mei adalah; Hari Kebangkitan Nasional, namun bagi Gerakan Pramuka memiliki arti khusus dan merupakan tonggak sejarah untuk pendidikan di lingkungan ke tiga. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PERMULAAN TAHUN KERJA.
3.Pernyataan para wakil organisasi kepanduan di Indonesia yang dengan ikhlas meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka, dilakukan di Istana Olahraga Senayan pada tanggal 30 Juli 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI IKRAR GERAKAN PRAMUKA.
4.Pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari di Istana Negara, diikuti defile Pramuka untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang didahului dengan penganugerahan Panji-Panji Gerakan Pramuka, dan kesemuanya ini terjadi pada tanggal pada tanggal 14 Agustus 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PRAMUKA.
Gerakan Pramuka Diperkenalkan
Pidato Presiden pada tanggal 9 Maret 1961 juga menggariskan agar pada peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI Gerakan Pramuka telah ada dan dikenal oleh masyarakat. Oleh karena itu Keppres RI No.238 Tahun 1961 perlu ada pendukungnya yaitu pengurus dan anggotanya.
Menurut Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, pimpinan perkumpulan ini dipegang oleh Majelis Pimpinan Nasional (MAPINAS) yang di dalamnya terdapat Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Kwartir Nasional Harian.
Badan Pimpinan Pusat ini secara simbolis disusun dengan mengambil angka keramat 17-8-’45, yaitu terdiri atas Mapinas beranggotakan 45 orang di antaranya duduk dalam Kwarnas 17 orang dan dalam Kwarnasri 8 orang.
Namun dalam realisasinya seperti tersebut dalam Keppres RI No.447 Tahun 1961, tanggal 14 Agustus 1961 jumlah anggota Mapinas menjadi 70 orang dengan rincian dari 70 anggota itu 17 orang di antaranya sebagai anggota Kwarnas dan 8 orang di antara anggota Kwarnas ini menjadi anggota Kwarnari.
Mapinas diketuai oleh Dr. Ir. Soekarno, Presiden RI dengan Wakil Ketua I, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Wakil Ketua II Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh.
Sementara itu dalam Kwarnas, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjabat Ketua dan Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh sebagai Wakil Ketua merangkap Ketua Kwarnari.
Gerakan Pramuka secara resmi diperkenalkan kepada seluruh rakyat Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1961 bukan saja di Ibukota Jakarta, tapi juga di tempat yang penting di Indonesia. Di Jakarta sekitar 10.000 anggota Gerakan Pramuka mengadakan Apel Besar yang diikuti dengan pawai pembangunan dan defile di depan Presiden dan berkeliling Jakarta.
Sebelum kegiatan pawai/defile, Presiden melantik anggota Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari, di Istana negara, dan menyampaikan anugerah tanda penghargaan dan kehormatan berupa Panji Gerakan Kepanduan Nasional Indonesia (Keppres No.448 Tahun 1961) yang diterimakan kepada Ketua Kwartir Nasional, Sri Sultan Hamengku Buwono IX sesaat sebelum pawai/defile dimulai.
Peristiwa perkenalan tanggal 14 Agustus 1961 ini kemudian dilakukan sebagai HARI PRAMUKA yang setiap tahun diperingati oleh seluruh jajaran dan anggota Gerakan Pramuka.
http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Gerakan_Pramuka_Indonesia

Sejarah Kepramukaan Indonesia
A. Pendahuluan
                Pendidikan Kepramukaan di Indonesia merupakan salah satu segi pendidikan nasional yang penting, yang merupakan bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Untuk itu perlu diketahui sejarah perkembangan Kepramukaan di Indonesia.
B. Sejarah Singkat Gerakan Pramuka
                Gagasan Boden Powell yang cemerlang dan menarik itu akhirnya menyebar ke berbagai negara termasuk Netherland atau Belanda dengan nama Padvinder. Oleh orang Belanda gagasan itu dibawa ke Indonesia dan didirikan organisasi oleh orang Belanda di Indonesia dengan nama NIPV (Nederland Indische Padvinders Vereeniging = Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda).
                Oleh pemimpin-pemimpin gerakan nasional dibentuk organisasi kepanduan yang bertujuan membentuk manusia Indonesia yang baik dan menjadi kader pergerakan nasional. Sehingga muncul bermacam-macam organisasi kepanduan antara lain JPO (Javaanse Padvinders Organizatie) JJP (Jong Java Padvindery), NATIPIJ (Nationale Islamitsche Padvindery), SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvindery), HW (Hisbul Wathon).
                Dengan adanya larangan pemerintah Hindia Belanda menggunakan istilah Padvindery maka K.H. Agus Salim menggunakan nama Pandu atau Kepanduan.
                Dengan meningkatnya kesadaran nasional setelah Sumpah Pemuda, maka pada tahun 1930 organisasi kepanduan seperti IPO, PK (Pandu Kesultanan), PPS (Pandu Pemuda Sumatra) bergabung menjadi KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Kemudian tahun 1931 terbentuklah PAPI (Persatuan Antar Pandu Indonesia) yang berubah menjadi BPPKI (Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia) pada tahun 1938.
                Pada waktu pendudukan Jepang Kepanduan di Indonesia dilarang sehingga tokoh Pandu banyak yang masuk Keibondan, Seinendan dan PETA.
                Setelah tokoh proklamasi kemerdekaan dibentuklah Pandu Rakyat Indonesia pada tanggal 28 Desember 1945 di Sala sebagai satu-satunya organisasi kepanduan.
                Sekitar tahun 1961 kepanduan Indonesia terpecah menjadi 100 organisasi kepanduan yang terhimpun dalam 3 federasi organisasi yaitu IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia) berdiri 13 September 1951, POPPINDO (Persatuan Pandu Puteri Indonesia) tahun 1954 dan PKPI (Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia)
Menyadari kelemahan yang ada maka ketiga federasi melebur menjadi satu dengan nama PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia).
                Karena masih adanya rasa golongan yang tinggi membuat Perkindo masih lemah. Kelemahan gerakan kepanduan Indonesia akan dipergunakan oleh pihak komunis agar menjadi gerakan Pioner Muda seperti yang terdapat di negara komunis. Akan tetapi kekuatan Pancasila dalam Perkindo menentangnya dan dengan bantuan perdana Menteri Ir. Juanda maka perjuangan menghasilkan Keppres No. 238 tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka yang pada tanggal 20 Mei 1961 ditandatangani oleh Pjs Presiden RI Ir Juanda karena Presiden Soekarno sedang berkunjung ke Jepang.
                Di dalam Keppres ini gerakan pramuka oleh pemerintah ditetapkan sebagai satu-satunya badan di wilayah Indonesia yang diperkenankan menyelenggarakan pendidikan kepramukaan, sehingga organisasi lain yang menyerupai dan sama sifatnya dengan gerakan pramuka dilarang keberadaannya.
C. Perkembangan Gerakan Pramuka
                Ketentuan dalam Anggaran Dasar gerakan pramuka tentang prinsip-prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan yang pelaksanaannya seperti tersebut di atas ternyata banyak membawa perubahan sehingga pramuka mampu mengembangkan kegiatannya. Gerakan pramuka ternyata lebih kuat organisasinya dan cepat berkembang dari kota ke desa.
                Kemajuan Gerakan Pramuka akibat dari sistem Majelis Pembimbing yang dijalankan di tiap tingkat, dari tingkat Nasional sampai tingkat Gugus Depan. Mengingat kira-kira 80 % penduduk Indonesia tinggal di pedesaan dan 75 % adalah petani maka tahun 1961 Kwarnas Gerakan Pramuka menganjurkan supaya para pramuka mengadakan kegiatan di bidang pembangunan desa. Pelaksanaan anjuran ini terutama di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat menarik perhatian Pimpinan Masyarakat. Maka tahun 1966 Menteri Pertanian dan Ketua Kwartir Nasional mengeluarkan instruksi bersama pembentukan Satuan Karya Taruna Bumi. Kemudian diikuti munculnya saka Bhayangkara, Dirgantara dan Bahari. Untuk menghadapi problema sosial yang muncul maka pada tahun 1970 menteri Transmigrasi dan Koperasi bersama dengan Ka Kwarnas mengeluarkan instruksi bersama tentang partisipasi gerakan pramuka di dalam penyelenggaraan transmigrasi dan koperasi. Kemudian perkembangan gerakan pramuka dilanjutkan dengan berbagai kerjasama untuk peningkatan kegiatan dan pembangunan bangsa dengan berbagai instansi terkait.      

Ditulis oleh : Drs. Ringsung Suratno, M.Pd
http://www.pramukanet.org/index.php?option=com_content&task=view&id=130&Itemid=51#.VBprxGfm_IU

Gerakan pramuka Lubaja
3 November 2012 ·
A.
Pengertian Dan Sejarah Pramuka
1
.
Pengertian Pramuka
Pramuka adalah kepanjangan dari praja muda karana yang artinya sekumpulan anak muda yangmemiliki karya atau sedang berkarya.Dari pengertian tersebut, maka pantas apabila pramuka dianggap sebagai penerus bangsa yangmemiliki karya dan kemajuan dalam berfikir, disiplin dan mampu mengatasi masalah, banyak karya yang dapatdikuasai dalam mengikuti pramuka, seperti mampu memberi pertolongan dengan membuat tandu apabila dalamkeadaan genting, mampu membuat simpul, dan banyak manfaat lain yang dapat kita ambil di dalamnya.
2
.
Sejarah Pramuka
Pada awalnya pramuka pelopori oleh Lord Robert Boden Powel of Gilwell yang dijuluki sebagai pendiri pertama pramuka, beliau berasala dari Inggris berkelahiran tanggal 22 Februari 1857di london, namaaslinya adalah Robert Stephenson Smyth dan ayahnya adalah seorang Profesor Geometry di Universitas Oxfordyang namanya Boden Powel, banyak kegiatan yang dialami oleh Baden Powel yaitu :1)
Ditinggal ayahnya sejak kecil, dan mendapat pembinaan dari ibunya2)
Latihan ketrampilan berlayar, berenang, berkemah, olah raga dan lain ±lainya didapat dari kakaknya3)
Boden Powel sangat disenangi teman-temanya karena selalu gembira, lucu, cerdas, suka main musik, bersandiwara, berolahraga, mengarang dan menggambar.4)
Berpengalaman di India sebagai pembantu letnan sejak resimen ke 13 kavaleri yang berhasil mengikuti jejak kuda yang hilang,5)
Pengalaman terkepung bangsa Boer di kota Mafeking, Afrika selatan selama 127 hari dan kekurangan pangan6)
Berpengalaman mengalahkan kerajaan Zulu di Afrika dan mengambil kalung manik kayu milik rajaDini ZuluPengalaman tersebut ditulis dan dibukukan menjadi sebuah buku berjudul ³Aids to Scouting´ BodenPowel memiliki istri Olave St. Clair Soames pada tahun 1912 dan memiliki 3 anak, dan Boden Powel meninggal pada tanggal 8 Januari 1941di Nyeri, Kenya, AfrikaPada tahun 1908 beliau banyak menulis cerita pengalamanya dan dibukukan yaitu : scouting for boys,yaitu pramuka untuk penggalang (Boy Scout), yang kemudian disusul dengan berdirinya pramuka putri yangdiberi nama Girls Guides atas bantuan Agnes adik perempuan Boden Powel yang kemudian diteruskan oleh IbuBoden PowellCatatan :-
Pencipta lambang pramuka adalah bapak Soenarjo Admodipuro-
Hari tunas kelapa yaitu tanggal 9 maret-
Hari krida pramuka yaitu tanggal 20 mei-
Hari pramuka yaitu tanggal 14 Agustus
3
.
T
ujuan pramuka adalah
Meningkatkan kesehatan, kebahagiaan, keterampilan, kesediaan mem-berikan pertolongan
2
4
.
A
rti lambang gerakan pramuka
Arti lambang pramuka adalah sebagai berikut :1)
Tunas kelapa melambangkan kekokohan dan sebagai generasi penerus bagi bangsa dan Negara RI2)
Bintang melambangkan ketuhanan yang maha esa3)
Padi dan kapas melambangkan sandang dan pangan kita4)
Rantai melambagkan persatuan pramuka5)
Gerigi melambangkan
5
.
B
eberapa istilah pengelompokan yaitu :
1)
WOSM artinya World Organization Scout Movement yaitu pandu putra sedunia2)
WAGGGS artinya The World Association of Girl Guide andGirl Scout
yaitu pandu putri sedunia
6
.
A
rti tunas kelapa
1)
Lambang gerakan pramuka adalah tunas kelapa artinyaseorang pramuka adalah orang yang pertama yang akan meneruskan bangsadan Negara RI2)
Pohon kelapa berbatang lurus artinya : seorang pramuka harus senantiasa berjiwa jujur 3)
Pohon kelapa berpangkal kuat artinya : seorang pramuka memiliki jiwa dan mentalyang kuat4)
Pohon kelapa menjulang tinggi artinya : pramuka memiliki cita ± cita yang tinggi5)
Pohon kelapa dari akar hingga ujung dapat digunakan untuk kebutuhanhidup manusia artinya : seorang pramuka haruslah senantiasa berguna bagi masyarakat.
B.
Sistem Pendidikan Pramuka
Sistem pendidikan bagi peserta didik ditujukan untuk mencapai tujuan gerakan pramuka, proses pendidikan ini dilakukan dalam bentuk kegiatan yang menarik, dan bertujuan mendidik, baik pendidikan itudilaksanakan di luar kelas maupun di dalam kelas, proses pendidikan ini diatur melalui syarat kecakapan umum(SKU) dan syarat kecakapan khusus (SKK)
1
.
T
ingkatan pramuka
Untuk tingkatan pramuka siaga (dari umur 7-10 tahun) ada 3 syarat keca-kapan umum yaitu :1)
Siaga Mula2)
Siaga Bantu3)
Siaga TataUntuk tingkatan pramuka penggalang (usia 11 ± 15 tahun) ada 3 tingkat syarat kecakapan umum yaitu :1)
Penggalang Ramu2)
Penggalang Rakit3)
Penggalang TerapUntuk tingkat pramuka penegak (usia 16 ± 20 tahun ), ada 2 tingkat syarat kecakapan umum yaitu :1)
Penegak bantara2)
Penegak laksanaUntuk tingkatan pramuka pandega (usia 21 ± 25 tahun) hanya ada satu tingkat yaitu pandegaDari masing-masing tingatan di atas, apabila memiliki suatu kekhususan atau memenuhi suatu kecakapantertentu dapat menjadi pramuka Siaga/ Penggalang/ Penegak/ Pandega Garuda

Kajian Filsafat Ilmu lanjut

KAJIAN FILSAFAT ILMU
(Untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan)






Kelompok 3
Fajar Riski
Nadiyya Chaerunnisa
Restu Yashinta Kinanti
Kelas 3B





JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
SERANG
2015

A.    Pengertian  Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Filsafat ilmu merupakan telaah secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu seperti, objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengidera) yang membuahkan pengetahuan?
Filsafat ilmu ialah penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Dengan kata lain, filsafat ilmu sesungguhnya merupakan suatu penyelidikan lanjutan. Karena, apabila para penyelenggara melakukan menyelidikan terhadap objek-objek serta masalah-masalah yang berjenis khusus dari masing-masing ilmu itu sendiri, maka orangpun dapat melakukan penyelidikan lanjutan terhadap kegiatan-kegiatan ilmiah tersebut. Dengan mengalihkan perhatian dari objek-objek yang sebenarnya dari penyelidikan ilmiah kepada proses penyelidikannya sendiri, maka muncullah suatu matra baru.
Filsafat ilmu dapat dibedakan menjadi dua yaitu filsafat ilmu dalam arti luas dan sempit, filsafat ilmu dalam arti luas yaitu menampung permasalahan yang menyangkut hubungan luar dari kegiatan ilmiah, sedangkan dalam arti sempit yaitu menampung permasalahan yang bersangkutan dengan hubungan dalam yang terdapat di dalam ilmu. Banyak pendapat yang memiliki makna serta penekanan yang berbeda tentang filsafat ilmu. Menurut Prof. Dr. Conny R. Semiawan, dkk mengartikan filsafat ilmu dalam empat titik pandang yaitu mengelaborasikan implikasi yang lebih luas dari ilmu, mengasimilasi filsafat ilmu dengan sosiologi, suatu sistem yang di dalamnya konsep dan teori tentang ilmu dianalisis dan diklasifikasi, dan suatu patokat tingkat kedua yang dapat dirumuskan antara doing science dan thinking tentang bagaimana ilmu harus dilakukan.
Adapun beberapa definisi ilmu menurut para ahli di antaranya adalah
a.      Robert Akermann, filsafat ilmu adalah sebuah tinjauan kritis tentang pendapat-pedapat ilmiah dewasa ini yang dibandingkan pendapat-pendapat terdahulu yang telah dibuktikan.
b.      Leswi White Beck, filsafat ilmu itu mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran ilmiah, serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagai suatu keseluruhan.
c.       Cornelius Benjamin, filsafat ilmu merupakan cabang pengetahuan filsafati yang menelaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu, metode-metodenya, konsep-konsepnya serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang intelektual.
d.      May Brodbeck, filsafat ilmu itu sebagai analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu.
e.      The Liang Gie mendefinisikan filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.
Untuk mendapatkan gambaran singkat tentang pengertian filsafat ilmu dapat dirangkum menjadi tiga yaitu:
1) Suatu telaah kritis terhadap metode yang digunakan oleh ilmu tertentu,
2) Upaya untuk mencari kejelasan mengenai dasar-dasar konsep mengenai ilmu dan upaya untuk membuka tabir dasar-dasar keempirisan, kerasionalan, dan kepragmatisan, dan
3) Studi gabungan yang terdiri atas beberapa studi yang beraneka macam yang ditunjukkan untuk menetapkan batas yang tegas mengenai ilmu tertentu.
B.      Tujuan Filsafat Ilmu
Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai semakin menajamnya spesialisasi ilmu maka filsafat ilmu sangat diperlukan. Sebab dengan mempelajari filsafat ilmu, kita akan menyadari keterbatasan diri dan tidak terperangkap ke dalam sikap oragansi intelektual. Hal yang lebih diperlukan adalah sikap keterbukaan kita, sehingga mereka dapat saling menyapa dan mengarahkan seluruh potensi keilmuan yang dimilikinya untuk kepentingan bersama.
Fisafat ilmu sebagai cabang khusus yang membicarakan sejarah perkembangan ilmu bertujuan: Pertama, filsafat ilmu sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah. Kedua, filsafat ilmu merupakan usaha merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan medote keilmuan. Ketiga, filsafat ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan, setiap metode ilmiah yang dikembangkan harus dapat dipertanggungjawabkkan secara logis dan rasional agar dapat dipahami dan digunakan secara umum.
C.      Peranan Filsafat dalam Ilmu Pengetahuan
Semakin banyak manusia tahu, semakin banyak pula pertanyaan yang timbul dalam dirinya. Manusia ingin tahu tentang asal dan tujuan hidup, tentang dirinya sendiri, tentang nasibnya, tentang kebebasannya, dan berbagai hal lainnya. Sikap seperi ini pada dasarnya sudah menghasilkan pengetahuan yang sangat luas, yang secara metodis dan sistematis dapat dibagi atas banyak jenis ilmu.
Ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya membantu manusia dalam mengorientasikan diri dalam dunia dan memecahkan berbagai persoalan hidup. Berbeda dari binatang, manusia tidak dapat membiarkan insting mengatur perilakunya. Untuk mengatasi masalah-masalah, manusia membutuhkan kesadaran dalam memahami lingkungannya. Di sinilah ilmu-ilmu membantu manusia mensistematisasikan apa yang diketahui manusia dan mengorganisasikan proses pencariannya.
Pada abad modern ini, ilmu-ilmu pengetahuan telah merasuki setiap sudut kehidupan manusia. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena ilmu-ilmu pengetahuan banyak membantu manusia mengatasi berbagai masalah kehidupan. Prasetya T. W. dalam artikelnya yang berjudul “Anarkisme dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend” mengungkapkan bahwa ada dua alasan mengapa ilmu pengetahuan menjadi begitu unggul. Pertama, karena ilmu pengetahuan mempunyai metode yang benar untuk mencapai hasil-hasilnya. Kedua, karena ada hasil-hasil yang dapat diajukan sebagai bukti keunggulan ilmu pengetahuan. Dua alasan yang diungkapkan Prasetya tersebut, dengan jelas menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan memainkan peranan yang cukup penting dalam kehidupan umat manusia.
Akan tetapi, ada pula tokoh yang justru anti terhadap ilmu pengetahuan. Salah satu tokoh yang cukup terkenal dalam hal ini adalah Paul Karl Feyerabend. Sikap anti ilmu pengetahuannya ini, tidak berarti anti terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, tetapi anti terhadap kekuasaan ilmu pengetahuan yang kerap kali melampaui maksud utamanya. Feyerabend menegaskan bahwa ilmu-ilmu pengetahuan tidak menggunguli bidang-bidang dan bentuk-bentuk pengetahuan lain. Menurutnya, ilmu-ilmu pengetahuan menjadi lebih unggul karena propaganda dari para ilmuan dan adanya tolak ukur institusional yang diberi wewenang untuk memutuskannya.
Sekalipun ada berbagai kontradiksi tentang keunggulan ilmu pengetahuan, tidak dapat disangkal bahwa ilmu pengetahuan sesungguhnya memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari peranan ilmu pengetahuan dalam membantu manusia mengatasi masalah-masalah hidupnya, walaupun kadang-kadang ilmu pengetahuan dapat pula menciptakan masalah-masalah baru.
Meskipun demikian, pada kenyataannya peranan ilmu pengetahuan dalam membantu manusia mengatasi masalah kehidupannya sesungguhnya terbatas. Seperti yang telah diungkapkan pada bagian pendahuluan, keterbatasan itu terletak pada cara kerja ilmu-ilmu pengetahuan yang hanya membatasi diri pada tujuan atau bidang tertentu. Karena pembatasan itu, ilmu pengetahuan tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang keseluruhan manusia. Untuk mengatasi masalah ini, ilmu-ilmu pengetahuan membutuhkan filsafat. Dalam hal inilah filsafat menjadi hal yang penting.
Pertanggungjawaban rasional pada hakikatnya berarti bahwa setiap langkah harus terbuka terhadap segala pertanyaan dan sangkalan, serta harus dipertahankan secara argumentatif dengan argumen-argumen yang objektif. Hal ini berarti bahwa kalau ada yang mempertanyakan atau menyangkal klaim kebenaran suatu pemikiran, pertanyaan dan sangkalan itu dapat dijawab dengan argumentasi atau alasan-alasan yang masuk akal dan dapat dimengerti.
Dari berbagai penjelasan di atas, tampak jelas bahwa filsafat selalu mengarah pada pencarian akan kebenaran. Pencarian itu dapat dilakukan dengan menilai ilmu-ilmu pengetahuan yang ada secara kritis sambil berusaha menemukan jawaban yang benar. Tentu saja penilaian itu harus dilakukan dengan langkah-langkah yang teliti dan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Penilaian dan jawaban yang diberikan filsafat sendiri, senantiasa harus terbuka terhadap berbagai kritikan dan masukan sebagai bahan evaluasi demi mencapai kebenaran yang dicari.
Inilah yang menunjukkan kekhasan filsafat di hadapan berbagai ilmu pengetahuan yang ada. Filsafat selalu terbuka untuk berdialog dan bekerjasama dengan berbagai ilmu pengetahuan dalam rangka pencarian akan kebenaran. Baik ilmu pengetahuan maupun filsafat, bila diarahkan secara tepat dapat sangat membantu kehidupan manusia.
Membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada paradigma yang membentuknya. Kearifan memperbaiki paradigma ilmu pengetahuan nampaknya sangat diperlukan agar ilmu pengetahuan seiring dengan tantangan zaman, karena ilmu pengetahuan tidak hidup dengan dirinya sendiri, tetapi harus mempunyai manfaat kepada kehidupan dunia
7.      Ruang Lingkup Filsafat Ilmu
Bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen‑komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu, tiang penyangga itu ada tiga macam yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
a.      Ontologi
Kata ontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu On berarti being, dan Logos berarti logic. Jadi ontologi adalah the theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan). Sedangkan menurut Amsal Bakhtiar, ontologi berasal dari kata ontos yang berarti sesuatu yang berwujud. Ontologi adalah teori atau ilmu tentang wujud, tentang hakikat yang ada. Ontologi tidak banyak berdasarkan pada alam nyata tetapi berdasarkan pada logika semata.
Noeng Muhadjir mengatakan bahwa ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terkait oleh satu perwujudan tertentu. Sedangkan jujun mengatakan bahwa ontologi membahas apa yang kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu atau dengan kata lain suatu pengkajian mengenai teori tentang yang ada. Sidi Gazalba mengatakan bahwa ontologi mempersoalkan sifat dan keadaan terakhir dari kenyataan. Karena itu ontologi disebut ilmu hakikat, hakikat yang bergantung pada pengetahuan. Dalam agama ontologi memikirkan tentang tuhan.
Jadi dapat disimpulakan bahwa ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada yang merupakan kebenaran dan kenyataan baik yang berbentuk jasmani atau konkret maupun rohani atau abstrak.
b.      Epistemologi
Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengendalian-pengendalian, dan dasar-dasarnya serta pengertian mengenai pengetahuan yang dimiliki, mula-mula manusia percaya bahwa dengan kekuatan pengenalanya ia dapat mencapai realitas sebagaimana adanya. Mereka mengandalikan begitu saja bahwa pengetahuan mengenai kodrat itu mungkin, meskipun beberapa di antara mereka menyarankan bahwa pengetahuan mengenai struktur kenyataan dapat lebih dimunculkan dari sumber-sumber tertentu ketimbang sumber-sumber lainya. Pengertian yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indra, dan lain-lain.

c.       Aksiologi
Aksiologi berasal dari bahasa Yunani yaitu axios yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah “teori tentang nilai“. Menurut Bramel, aksiologi terbagi dalam tiga bagian yaitu moral conduct (tindakan moral), esthetic expression (ekspresi keindahan), dan sosio-political life (kehidupan sosial politik). Sedangkan menurut Jujun S. Suriansumantri dalam bukunya Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar mengartikan aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa aksiologi disamakan dengan Value and Valuation. Ada tiga bentuk Value and Valuation yaitu nilai yang digunakan sebagai kata benda abstrak, nilai sebagai benda konkret, dan nilai digunakan sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai, member nilai dan dinilai.
Dari definisi di atas terlihat jelas bahwa aksiologi menjelaskan tentang nilai. Nilai yang dimaksud disini adalah sesuatu yang dimiliki oleh manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Nilai dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika.
Makna “etika“ dipakai dalam dua bentuk arti yaitu suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan manusia, dan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan hal, perbuatan manusia. Maka akan lebih tepat kalau dikatakan bahwa objek formal dari sebuah etika adalah norma kesusilaan manusia, dan dapat dikatakan pula bahwa etika mempelajari tingkah laku manusia ditinjau dari segi baik dan tidak baik dalam suatu kondisi. Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya.
D.      Objek Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu sebagaimana halnya dengan bidang-bidang ilmu lainnya juga memiliki dua macam objek yaitu objek material dan objek formal.
a)        Objek Material Filsafat ilmu
Objek Material filsafat ilmu yaitu suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan atau hal yang di selidiki, di pandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu yang mencakup apa saja baik hal-hal yang konkrit ataupun yang abstrak. Menurut Dardiri bahwa objek material adalah segala sesuatu yang ada, baik yang ada dalam pikiran, ada dalam kenyataan maupun ada dalam kemungkinan. Segala sesuatu yang ada itu di bagi dua, yaitu :
1)     Ada yang bersifat umum, yakni ilmu yang menyelidiki tentang hal yang ada pada umumnya.
2)     Ada yang bersifat khusus yang terbagi dua yaitu ada secara mutlak dan tidak mutlak yang terdiri dari manusia dan alam.
b)        Objek Formal Filsafat Ilmu
Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek menelaah objek materialnya. Setiap ilmu pasti berbeda dalam objek formalnya. Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat ilmu pengetahuan yang artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatiannya terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan. Seperti apa hakikat ilmu pengetahuan, bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah dan apa fungsi ilmu itu bagi manusia. Problem inilah yang di bicarakan dalam landasan pengembangan ilmu pengetahuan yakni landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis.
E.      Perbedaan objek material dan objek formal filsafat ilmu
Objek material filsafat merupakan suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu atau hal yang di selidiki, di pandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu yang mencakup apa saja baik hal-hal yang konkrit ataupun yang abstrak.  Sedangkan Objek formal filsafat ilmu tidak terbatas pada apa yang mampu diindrawi saja, melainkan seluruh hakikat sesuatu baik yang nyata maupun yang abstrak.
Obyek material filsafat ilmu itu bersifat universal (umum), yaitu segala sesuatu yang ada (realita) sedangkan objek formal filsafat ilmu (pengetahuan ilmiah) itu bersifat khusus dan empiris. objek material mempelajari secara langsung pekerjaan akal dan mengevaluasi hasil-hasil dari objek formal ilmu itu dan mengujinya dengan realisasi praktis yang sebenarnya.  Sedangkan Obyek formal filsafat ilmu menyelidiki segala sesuatu itu guna mengerti sedalam dalamnya, atau mengerti obyek material itu secara hakiki, mengerti kodrat segala sesuatu itu secara mendalam (to know the nature of everything). Obyek formal inilah sudut pandangan yang membedakan watak filsafat dengan pengetahuan. Karena filsafat berusaha mengerti sesuatu sedalam dalamnya.
Obyek material Filsafat ilmu yaitu segala sesuatu yang ada dan mungkin ada, baik materi konkret, psisik, maupun yang material abstrak, psikis. Termasuk pula pengertian abstrak-logis, konsepsional, spiritual, nilai-nilai. Dengan demikian obyek filsafat tak terbatas, yakni segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Objek material filsafat adalah segala yang ada. Segala yang ada mencakup ada yang tampak dan ada yang tidak tampak. Objek material yang sama dapat dikaji oleh banyak ilmu lain. ada yang tampak adalah dunia empiris, sedangkan ada yang tidak tampak adalah alam metafisika. Sebagian filosof membagi objek material filsafat atas tiga bagian, yaitu yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam pikiran dan yang ada dalam kemungkinan.



























DAFTAR PUSTAKA

Wiranata, Andri. (2013). Makalah Filsafat Ilmu Tentang Peranan Filsafat dalam Ilmu Pengetahuan. http://andriwiranata76.blogspot.co.id/. Diakses pada tanggal 12 Oktober 2015.
Smile, Anan. (2011). Paradigma Ilmu: Positivisme, Postpositivisme Dan Konstruktivisme. http://warkopmbahlalar.com/866/paradigma-ilmu-positivisme-postpositivisme-dan-konstruktivisme/. Diakses pada tanggal 12 Oktober 2015.









































PERTANYAAN

1. Objek apakah yang ditelaah ilmu ?
Terbagi menjadi dua, yaitu objek material dan formal. Objek material adalah bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan atau hal yang diselidiki, dipandang atau disorot oleh suatu disiplin ilmu yang mencakup apa saja baik hal-hal yang konkrit ataupun abstrak. Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek menalaah objek materialnya.

2. Mengapa filsafat ilmu dikatakan penyelidikan lanjutan ?
Karena apabila penyelenggara melakukan penyelidikan terhadap objek-objek serta masalah-masalah yang berjenis khusus dari masing-masing ilmu itu sendiri, maka orangpun dapat melakukan penyelidikan lanjutan terhadap kegiatan-kegiatan ilmiah tersebut.

3. Tujuan hakiki dari filsafat ilmu ?
Dengan mempelajari filsafat ilmu, kita akan menyadari keterbatasan diri dan tidak terperangkap ke dalam sikap arogansi intelektual.

4. Apa makna etika secara filosofis ?
Makna etika dipakai dalam dua bentuk arti yaitu suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan manusia, dan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan hal, perbuatan manusia.

5. Apa saja bentuk Value and Valuation ?
Ada 3 bentuk Value and Valuation yaitu nilai yang digunakan sebagai kata benda abstrak, nilai sebagai benda konkret, dan nilai yang digunakan sebagai kata kerja dalam ekpresi menilai, memberi nilai, dan dinilai.

6. Semakin banyak manusia tahu, semakin banyak pula pertanyaan yang timbul dalam dirinya, mengapa ?
Jawab : Dari pertanyaan diatas dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang berfikir dan memiliki pengetahuan.berfikir danpengetahuan merupakan dua hal yang menjadi ciri keutamaan manusia, tanpa pengetahuan manusia akan sulit berfikir dan tanpa berfikir pengetajuan lebih lanjut tidak mungkin dapat dicapai.
Manusia sebagai makhluk berfikir pastinya selalu ingin banyak tahu akan pengetahuan. Timbulnya pertanyaan didalam dirinya itu disebabkan oleh berfikir. Karena semakin banyak pengetahuan yang dimiliki dan diketahui seseorang semakin rumit pula aktivitas berfikir, demikian juga semakin rumit aktivitas berfikit semakin kaya akumulasi pengetahuan.

7. Perbedaan manusia dengan binatang dalam ilmu filsafat?
Jawab : Dalam konteks perbandingan dengan bagian-bagian alam lainnya, para akhli telah banyak mengkaji perbedaan antara manusia dengan makhluk-makhluk lainnya terutama dengan makhluk yang agak dekat dengan manusia yaitu hewan. Secara umum komparasi manusia dengan hewan dapat dilihat dari sudut pandang Naturalis/biologis dan sudut pandang sosiopsikologis. Secara biologis pada dasarnya manusia tidak banyak berbeda dengan hewan, bahkan Ernst Haeckel (1834 – 1919) mengemukakan bahwa manusia dalam segala hal sungguh-sungguh adalah binatang beruas tulang belakang, yakni binatang menyusui, demimikian juga Lamettrie (1709 – 1751) menyatakan bahwa tidaklah terdapat perbedaan antara binatang dan manusia dan karenanya manusia itu adalah suatu mesin.

Kalau manusia itu sama dengan hewan, tapi kenapa manusia bisa bermasyarakat dan berperadaban yang tidak bisa dilakukan oleh hewan ?, pertanyaan ini telah melahirkan berbagai pemaknaan tentang manusia, seperti manusia adalah makhluk yang bermasyarakat (Sosiologis), manusia adalah makhluk yang berbudaya (Antropologis), manusia adalah hewan yang ketawa, sadar diri, dan merasa malu (Psikologis), semua itu kalau dicermati tidak lain karena manusia adalah hewan yang berfikir/bernalar (theanimalthatreason) atau Homo Sapien.

Dengan memahami uraian di atas, nampak bahwa ada sudut pandang yang cenderung merendahkan manusia, dan ada yang mengagungkannya, semua sudut pandang tersebut memang diperlukan untuk menjaga keseimbangan memaknai manusia. Blaise Pascal (1623 – 1662) menyatakan bahwa adalah berbahaya bila kita menunjukan manusia sebagai makhluk yang mempunyai sifat-sifat binatang dengan tidak menunjukan kebesaran manusia sebagai manusia. Sebaliknya adalah bahaya untuk menunjukan manusia sebagai makhluk yang besar dengan tidak menunjukan kerendahan, dan lebih berbahaya lagi bila kita tidak menunjukan sudut kebesaran dan kelemahannya sama sekali (Rasjidi. 1970 : 8). Guna memahami lebih jauh siapa itu manusia, berikut ini akan dikemukakan beberapa definisi
- Plato (427 – 348). Dalam pandangan Plato manusia dilihat secara dualistik yaitu unsur jasad dan unsur jiwa, jasad akan musnah sedangkan jiwa tidak, jiwa mempunyai tiga fungsi (kekuatan) yaitu logystikon (berfikir/rasional, thymoeides (Keberanian), dan epithymetikon (Keinginan)
- Aristoteles (384 – 322 SM). Manusia  itu adalah hewan yang berakal sehat, yang mengeluarkan pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal fikirannya. Manusia itu adalah hewan yang berpolitik (ZoonPoliticon/PoliticalAnimal), hewan yang membangun masyarakat di atas famili-famili menjadi pengelompokan impersonal dari pada kampung dan negara.
- Ibnu Sina (980 -1037 M). manusia adalah makhluk yang mempunyai kesanggupan : 1) makan, 2) tumbuh, 3) ber-kembang biak, 4) pengamatan hal-hal yang istimewa, 5) pergerakan di bawah kekuasaan, 6) ketahuan (pengetahuan tentang) hal-hal yang umum, dan 7) kehendak bebas. Menurut dia, tumbuhan hanya mempunyai kesanggupan 1, 2, dan 3, serta hewan mempunyai kesanggupan 1, 2, 3, 4, dan 5.
- Ibnu Khaldun (1332 – 1406). Manusia adalah hewan dengan kesanggupan berpikir, kesanggupan ini merupakan sumber dari kesempurnaan dan puncak dari segala kemulyaan dan ketinggian di atas makhluk-makhluk lain.
- Ibnu Miskawaih. Menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai kekuatan-kekuatan yaitu : 1) Al Quwwatul Aqliyah (kekuatan berfikir/akal), 2) Al Quwwatul Godhbiyyah (Marah, 3) Al QuwwatuSyahwiyah (sahwat).
- Harold H. Titus menyatakan : Man isananimalorganism, itistruebut he isableto study himself as organismandtocompareandinterpretlivingformsandtoinquireaboutthemeaningof human existence . Selanjutnya Dia menyebutkan beberapa faktor yang berkaitan ( menjadi karakteristik – pen) dengan manusia sebagai pribadi yaitu :
• Selfconscioueness
• Reflectivethinking, abstractthought, orthepowerofgeneralization
• Ethicaldiscriminationandthepowerofchoice
• Aestheticappreciation
• Worshipandfaith in a higherpower
• Creativityof a new order
William E. Hocking menyatakan : Man canbedefined as theanimalwhothinks in term oftotalities. C.E.M. Joad . Menyatakan : everythingandeverycreature in theworldexceptmanacts as itmust, . oract as itpleased, manaloneactonoccasion as he ought R.F. Beerling . Menyatakan bahwa manusia itu tukang bertanya.
Dari uraian dan berbagai definisi tersebut di atas, dapatlah ditarik beberapa kesimpulan tentang siapa itu manusia yaitu :
1. Secara fisikal, manusia sejenis hewan juga
2. Manusia punya kemampuan untuk bertanya
3. Manusia punya kemampuan untuk berpengetahuan
4. Manusia punya kemauan bebas
5. Manusia bisa berprilaku sesuai norma (bermoral)
6. Manusia adalah makhluk yang bermasyarakat dan berbudaya
7. Manusia punya kemampuan berfikir reflektif dalam totalitas dengan kesadara diri
8. Manusia adalah makhluk yang punya kemampuan untuk percaya pada Tuhan
apabila dibagankan dengan mengacu pada pendapat di atas akan nampak sebagai berikut
Tabel  Dimensi-dimensi manusia
MANUSIA
HEWANI/BASARI INSANI/MANUSIAWI
JASAD/FISIK/BIOLOGIS JIWA/AKAL/RUHANI
MAKAN BERFIKIR
MINUM BERPENGETAHUAN
TUMBUH BERMASYARAKAT
BERKEMBANGBIAK BERBUDAYA/BERETIKA/BERTUHAN
Dengan demikian nampaknya terdapat perbedaan sekaligus persamaan antara manusia dengan makhluk lain khususnya hewan, secara fisikal/biologis perbedaan manusia dengan hewan lebih bersifat gradual dan tidak prinsipil, sedangkan dalam aspek kemampuan berfikir, bermasyarakat dan berbudaya, serta bertuhan perbedaannya sangat asasi/prinsipil, ini berarti jika manusia dalam kehidupannya hanya bekutat dalam urusan-urusan fisik biologis seperti makan, minum, beristirahat, maka kedudukannya tidaklah jauh berbeda dengan hewan, satu-satunya yang bisa mengangkat manusia lebih tinggi adalah penggunaan akal untuk berfikir dan berpengetahuan serta mengaplikasikan pengetahuannya bagi kepentingan kehidupan sehingga berkembanglah masyarakat beradab dan berbudaya, disamping itu kemampuan tersebut telah mendorong manusia untuk berfikir tentang sesuatu yang melebihi pengalamannya seperti keyakinan pada Tuhan yang merupakan inti dari seluruh ajaran Agama. Oleh karena itu carilah ilmu dan berfikirlah terus agar posisi kita sebagai manusia menjadi semakin jauh dari posisi hewan dalam konstelasi kehidupan di alam ini. Meskipun demikian penggambaran di atas harus dipandang sebagai suatu pendekatan saja dalam memberi makna manusia, sebab manusia itu sendiri merupakan makhluk yang sangat multi dimensi, sehingga gambaran yang seutuhnya akan terus menjadi perhatian dan kajian yang menarik, untuk itu tidak berlebihan apabila Louis Leahy berpendapat bahwa manusia itu sebagai makhluk paradoksal dan sebuah misteri, hal ini menunjukan betapa kompleks nya memaknai manusia dengan seluruh dimensinya.

8. Apa yang dimaksud dengan the theory of being qua being ?
Jawab : thetheoryofbeingquabeing (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan). Atau bisa disebut juga ontologi sebagai ilmu tetang yang ada. Istilah ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1936 M.

Objek menjadi kajian dalam ontologi adalah realita yang ada. Ontologi adalah studi tentang yang ada secara universal, dengan mencari pemikiran semesta universal. Ontologi berusaha mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan atau menjelaskan yang ada dalam setiap bentuknya. Jadi ontologi merupakan studi yang terdalam dari setiap hakekat kenyataan, misalnya (1) dapatkah manusia sungguh-sungguh memilih sesuatu, (2) apakah ada Tuhan didunia ini, (3) apakah nyata dalam hakekatmaterialataukah spiritual, (4) apakah jiwa sungguh dapat dibedakan dengan badan, (5) apakah hidup dan mati itu, dan sebagaiya.
9. Diantara ontologi, epistemologi dan aksiologi mana yang paling penting? Alasannya?
Jawab : Kita berangkat dulu dari pengertian ketiganya:
 Menurut Runes “Epistemologi is the branch of philoshophy which investigates the origin, stucture, methods and validity of knowledge.” Karena itulah epistemologi sering dikenal sebagai filsafat pengetahuan. Secara sederhana menurutku Epistemologi itu dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya sebuah pengetahuan.
 Menurut Louis O. Kattsoff dalam bukunya element of philosophy, aksiologi bisa disebut sebagai the theory of value atau teori nilai. Bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk, benar dan salah, serta tentang cara dan tujuan.
 Ontologi itu aku lebih suka memakai istilah the theory of being qua being atau ilmu tentang hakekat yang ada sebagai yang ada. Pengertian paling umum pada ontologi adalah bagian dari bidang filsafat yang mencoba mencari hakikat dari sesuatu.
Kembali ke pertanyaan awal “mana yang lebih penting ?” kalo aku melihatnya—fungsi filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan— apa yang ditanyakan dan apa yang dihasilkan oleh Epistemologi, ontologi dan Aksiologi itu ?Ontologi bertanya “Apakah sesuatu itu ada ?”, melahirkan suatu disiplin ilmu yang berhubungan dengan metafisika. Seperti: Ilmu Kalam, Teologi dll.
Aksiologi bertanya “apakah kebaikan itu ?” melahirkan suatu disiplin ilmu yang berhubungan dengan ilmu sosial. Seperti: Sosiologi dll
Epistemologi bertanya “Apakah pengetahuan itu ?” melahirkan suatu disiplin ilmu yang berkaitan dengan ilmu alam. Seperti: Biologi dll.
Melihat dari segi tanya dan sesuatu yang dihasilkan dari ketiga diatas itu, saya lebih memilih epistemology, kenapa ? karena epistemology (meskipun semuanya mempunyai kelebihan) berdaya guna dalam mencapai hasilnya, sementara aksiologi dan ontologi tidak dapat digunakan untuk mendirikan dan membangun ilmu pengetahuan. Bahkan, menurutku aksiologi dan ontologi lebih cocok untuk melestarikan kesalahan dan kesesatan yang ada ketimbang mengejar menentukan kebenaran serta kegunaannya untuk kemanusiaan.

10. Perbedaan objek material dan objek formal menurut para ahli?
Jawab : sebelumnya kita lihat dahulu dari pengertian objek material dan objek formal menurut para ahli. Yang nanti akan diketahui perbedaan dari keduanya.
Menurut Hakim dan Beni (2008: 19) Objek material fisafat adalah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada.
Objek material adalah suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu (Surajiyo, 2009: 5). Objek ini merupakan hal yang diselidiki (sasaran penyelidikan), dipandang, disorot, atau dipermasalahkan oleh suatu disiplin ilmu. Objek ini mencakup hal-hal yang bersifat konkret (seperti makhluk hidup dan benda mati) maupun abstrak (seperti keyakinan dan nilai-nilai).
Menurut Mustansyir (2003: 44) dalam filsafat ilmu, objek material adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum.
Objek Formal
Objek formal filsafat adalah pencarian terhadap yang ada dan yang mungkin ada secara kontemplatif pada permasalahan yang tidak dapat dijangkau oleh pendekatan empiris dan observatif yang berada dalam sains (Hakim dan Beni, 2008: 19).
Menurut Surajiyo (2009: 7) objek formal merupakan sudut pandang yang ditujukan pada bahan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut dari mana objek material itu diselidiki. Seperti fisika, kedokteran, agama, sasrta, sejarah, dan sebagainya.
Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat ilmu pengetahuan, artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem-problem ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu, apa fungsi ilmu pengetahuan, dan bagaimana memperoleh kebenaran ilmiah. Probem-problem inilah yang dibicarakan dalam landasan pengembangan ilmu pengetahuan, yaitu landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis (Mustansyir, 2003: 44).
Dari pengertian para ahli tersebut, dapat disimpilkan perbedaan antara keduanya. Bahwa objek material merupakan suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan. Sedangkan objek formal adalah sudut pandang yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu.

11. Sebutkan contoh  objek material dan objek formal?
Jawab : objek material dalam ilmu matematika yaitu tentang bilangan, sedangkan objek formal yaitu penggunaan dari lambang bilangan untuk penghitungan dan pengukuran. Filsafat membahas bilangan sebagai objek studi material artinya filsafat menjadikan bilangan sebagai objek sasaran untuk menyelidiki ilmu tentang bilangan itu sendiri. Objek material filsafat ilmu bilangan adalah bilangan itu sendiri. Bilangan itu sendiri dimulai dari yang paling sederhana, yakni bilangan asli, bilangan cacah, kemudian bilangan bulat, dan seterusnya hingga bilangan kompleks.


Hasil observasi di Desa kamasan Kec. Cinangka

Nama : Restu Yashinta Kinanti
NIM : 2225141537
Kelas : 3/B

1. Apa yang dimaksud dengan etnomatematika?
Etnomatematika adalah matematika yang diterapkan oleh kelompok budaya tertentu, kelompok buruh/petani, anak-anak dari masyarakat kelas tertentu, kelas-kelas profesional, dan lain sebagainya.

2. Bagaimana pengaruh etnomatematika terhadap pembelajaran matematika?
Pengaruh etnomatematika terhadap pembelajaran matematika, terlihat ketika etnomatematika digunakan dalam pembelajaran matematika. Etnomatematika adalah matematika yang diterapkan di masyarakat, yang pastinya bila diterapkan didalam pembelajaran matematika memudahkan seorang anak dalam mempelajari matematika. Karena etnomatematika terhubung langung dengan kehidupan sehari-hari. Menghubungkan pelajaran-pelajaran matematika dengan kebiasaan dan kebudayaan di daerah masing masing.
Etnomatematika juga mempengaruhi guru dalam menyusun rencana pembelajaran. Penggunaan etnomatematika sebagai sarana untuk memotivasi, menstimulasi siswa, dapat mengatasi kejenuhan dan kesulitan pada pembelajaran matematika. Hal ini disebabkan etnomatematika merupakan bagian dari keseharian siswa yang merupakan konsep awal yang telah dimiliki dari lingkungan social budaya setempat. Selain itu etnomatematika memberikan nuansa baru pada pembelajaran matematika.

3. Bagaimana bentuk etnomatematika yang ada pada masyarakat di Desa Kamasan Kec. Cinangka?
Bentuk yang saya ambil salah satunya adalah sumber air yang terdapat di Desa Kamasan Kec. Cinangka. Sumber air atau lebih tepatnya tempat penyaluran air merupakan satu-satunya penyalur air yang terdapat di Desa Kamasan tersebut. Penyaluran air tersebut baru dibangun sekitar satu tahun yang lalu. Mampu menampung kurang lebih 16,2 liter, dengan bentuk balok yang memiliki panjang 3 meter, lebar 2 meter, dan tinggi 1,8 meter.
Air di penyaluran air bersumber dari mata gunung di Desa Kamasan. Yang bila ditempuh dengan jalan kaki sejauh 1,5 – 3 kilometer. Warga Desa Kamasan meletakkan lokasi penyaluran air yang tidak terlalu jauh dari pemukiman, namun ditempatkan di tempat yang sepi dari rumah warga. Di setiap sisi penyalur air, terdapat empat puluh titik untuk menyalurkan air kerumah warga. Di setiap titiknya terbagi menjadi dua, jadi satu titik saluran air mencakup dua rumah. Yang artinya terdapat delapan puluh rumah warga yang diairi oleh penyaluran air. Penyaluran dari penyaluran air kerumah warga menggunakan selang-selang air yang saling sambung menyambung menuju ke rumah-rumah warga.
Dari pernyataan-pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa kebiasaan dari warga membuat bentuk dari penaluran air itu berbentuk balok. Dan selang-selang yang panjang untuk menghemat uang. Menurut mereka lebih baik menggunakan selang-selang tersebut dibanding menggunakan pipa plavon yang bisa dibilang cukup kuat dan mampu mengalirkan ke rumah-rumah lebih banyak, tidak hanya delapan puluh rumah saja yang dapat di aliri. Tapi menurut warganya sendiri bila menggunakan pipa akan memakan biaya yang lebih banyak. Karena bila menggunakan pipa, pastinya pipa akan di taruh di bawah tanah dan menambah biaya.

4. Sebutkan satu tema dari bentuk etnomatematika yang anda teliti di Desa Kamasan Kec. Cinangka?
Pengaplikasian etnomatematika pada penyaluran air di Desa Kamasan Kec. Cinangka

5. Instrumen apa yang anda gunakan untuk mengumpulkan data tersebut?
(lembar wawancara/lembar observasi/lembar angket)
Dikarenakan kurangnya persiapan serta keadaan tempat penleitian yang tidak memungkinkan. Menjadikan intstrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berdasarkan pernyataan di atas, menjadi tidak ada. Yang ada hanyalah observasi lapangan dan wawancara pada narasumber secara lisan.